Khutbah Jumat 20 Februari 2026 Singkat Bahas Kebaikan yang Dikenang Setelah Wafat
masjid-pixabay-
Meninggalkan Jejak Kebaikan
Dalam mukadimahnya, khatib mengajak jamaah meningkatkan ketakwaan dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan disebut sebagai wasiat rutin yang selalu diserukan agar kualitas diri terus membaik dari hari ke hari.
Momentum haul KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur bersama para masyayikh Tebuireng menjadi contoh nyata bagaimana warisan kebaikan tetap hidup meski seseorang telah wafat.
Berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama hingga negarawan, mengakui pemikiran dan perjuangan Gus Dur yang terus dikaji serta ditulis dalam beragam karya ilmiah. Negara pun menganugerahkan gelar pahlawan sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya.
Fenomena dikenangnya seseorang setelah wafat selaras dengan doa Nabi Ibrahim dalam Surah Al-Syu’ara ayat 84 agar diberikan “lisana sidqin” di kalangan generasi setelahnya, yakni reputasi baik yang terus disebut dan dihargai.
Dalam penjelasan para ulama, makna tersebut dipahami sebagai peninggalan bernilai yang membuat seseorang terus dikenang karena manfaatnya.
Makna Wafat dalam Al-Qur’an
Khutbah ini juga mengulas makna wafat dari perspektif bahasa dan Al-Qur’an. Secara etimologis, wafat berkaitan dengan kesempurnaan atau terpenuhinya jatah umur seseorang.
Tiga Pengertian Wafat
- Tidur sebagai bentuk “kematian kecil”.
- Diangkat atau dipindahkan dari bumi.
- Berpisahnya ruh dari jasad.
Makna pertama merujuk pada ayat dalam Surah Al-An’am ayat 60 tentang Allah yang “mewafatkan” manusia pada malam hari, yakni saat tidur. Karena itu, tidur kerap disebut sebagai kematian kecil yang mengingatkan manusia pada akhir hayatnya.
Makna kedua tampak pada kisah Nabi Isa ketika Allah menyatakan akan “mewafatkan” dan mengangkatnya. Para mufasir menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah diangkat dari bumi, bukan wafat dalam arti meninggal dunia.
Adapun makna ketiga merujuk pada Surah Al-Zumar ayat 42 tentang Allah yang memegang jiwa ketika ajal tiba, yakni wafat dalam arti sesungguhnya.
Teladan Para Nabi dan Ulama
Peristiwa diangkatnya Nabi Isa dan Nabi Muhammad memiliki tujuan berbeda. Nabi Isa diangkat untuk diselamatkan dari ancaman pembunuhan, sementara Nabi Muhammad dimuliakan melalui peristiwa mi’raj sebagai penguatan iman.
Dari sini, jamaah diajak menyadari bahwa manusia biasa tidak dapat meminta keistimewaan serupa. Namun, setiap hamba tetap bisa menjadi bagian dari tanda kebesaran Allah melalui amal saleh yang memberi manfaat luas.
Keteladanan itu tercermin pada sosok Gus Dur yang dikenal memperjuangkan perdamaian, merawat kebinekaan, dan melindungi kelompok minoritas. Nama Abdurrahman yang bermakna hamba Yang Maha Pengasih seakan terwujud dalam kiprahnya.
Khutbah ditutup dengan ajakan agar umat meneladani para ulama yang mampu mengakhiri hidup dengan ridha Allah dan penghormatan manusia. Warisan kebaikan itulah yang akan berbicara ketika jasad telah kembali ke tanah.