Khutbah Jumat 13 Februari 2026 Mengulas Teladan Nabi Muhammad dalam Bercanda Secara Santun
masjid-pixabay-
Bercanda merupakan bagian dari kehidupan sosial yang sulit dipisahkan dari keseharian manusia. Islam tidak menutup ruang bagi tawa dan gurau, selama dilakukan dengan adab dan tidak melukai perasaan orang lain.
Dalam khutbah Jumat kali ini, jamaah diajak memahami bagaimana Rasulullah Muhammad saw. menempatkan canda sebagai sarana keakraban, pendidikan, dan penguat hubungan antarmanusia.
Khutbah diawali dengan pujian kepada Allah SWT dan pengakuan atas kerasulan Nabi Muhammad saw. sebagai teladan terbaik dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam bersenda gurau.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ... وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، قُدْوَةُ الْحُسْنَى فِي كُلِّ شَأْنٍ حَتَّى فِي الْمِزَاحِ وَالْفُكَاهَةِ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, khatib mengingatkan pentingnya takwa sebagai fondasi dalam setiap perilaku, termasuk saat bercanda. Tawa yang lahir dari ketakwaan akan membawa kebaikan, bukan luka batin.
Dalam kehidupan modern, humor sering muncul dalam bentuk gojlokan atau saling ledek. Jika dilakukan dengan tepat, ia dapat mempererat hubungan. Namun jika keliru, justru berubah menjadi sarana merendahkan.
Rasulullah saw. memberi contoh bahwa canda yang benar adalah humor yang membuat semua pihak tertawa bersama, bukan tertawa di atas penderitaan orang lain.
Teladan Rasulullah dalam Bersenda Gurau
Sosok Nabi Muhammad saw. dikenal sebagai pribadi yang hangat dan tidak kaku. Beliau kerap bercanda dengan para sahabat, namun tidak pernah keluar dari batas kebenaran.
Salah satu kisah yang dikenal adalah kedekatan beliau dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dalam suasana makan bersama, terjadi gurauan ringan yang dibalas Rasulullah dengan humor cerdas tanpa menyakiti, menandakan keakraban yang tulus.
Kisah lain datang dari seorang nenek Anshar yang meminta doa. Rasulullah menyampaikan gurauan tentang surga yang sempat membuat sang nenek terkejut, sebelum akhirnya dijelaskan bahwa di surga semua akan dikembalikan dalam keadaan muda. Gurauan itu menjadi jalan penyampaian akidah dengan cara yang lembut.
Dari peristiwa-peristiwa tersebut, khatib mengingatkan sabda Nabi yang masyhur, bahwa beliau bercanda namun tidak pernah mengatakan kecuali kebenaran.
Batasan Bercanda dalam Islam
Agar canda tetap bernilai ibadah dan menjaga ukhuwah, Islam menetapkan rambu-rambu yang perlu diperhatikan.
- Tidak menimbulkan sakit hati atau rasa dipermalukan.
- Tidak bertujuan menjatuhkan atau merendahkan orang lain.
- Menjauhi hal-hal sensitif seperti agama, keluarga, dan kekurangan pribadi.
Humor yang melampaui batas sering kali meninggalkan luka yang tidak terlihat. Karena itu, seorang Muslim dituntut peka terhadap perasaan sesama.
Menutup khutbah pertama, khatib mengajak jamaah menjadikan tawa sebagai sarana mempererat persaudaraan, sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan para sahabat.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ... إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Baca juga: Harga Emas Galeri 24, UBS, Antam, dan Antam Retro Stabil pada 9 Februari 2026