Sarjana Sulit Terserap Kerja, Gen Z Amerika Mulai Tinggalkan Bangku Kuliah

Sarjana Sulit Terserap Kerja, Gen Z Amerika Mulai Tinggalkan Bangku Kuliah

ilustrasi kampus--

Mantan kepala program karier awal di Raymond James Financial, Simon Kho, menjelaskan bahwa kecerdasan buatan mengubah perhitungan biaya perekrutan dan pelatihan talenta.

Menurutnya, perusahaan membutuhkan waktu sekitar 18 bulan agar investasi pelatihan karyawan baru bisa kembali. Perhitungan ini membuat banyak perusahaan ragu merekrut lulusan tanpa pengalaman.



Kondisi tersebut memengaruhi persepsi mahasiswa terhadap nilai balik investasi pendidikan. Minat mendaftar kuliah pun menurun, terutama pada bidang studi seperti ilmu komputer.

Mahasiswa juga menyadari pentingnya pengalaman kerja sebelum lulus. Tanpa magang atau pengalaman relevan, peluang memperoleh pekerjaan dinilai semakin kecil.

Di sisi lain, perusahaan enggan menanggung beban pelatihan talenta pemula. Situasi ini memperlebar jarak antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.


Penulis buku Apprentice Nation, Ryan Craig, menilai perguruan tinggi menghadapi tantangan eksistensial. Menurutnya, kampus perlu beradaptasi dengan perubahan pasar kerja.

Ia menekankan pentingnya integrasi pengalaman kerja yang relevan, sesuai bidang studi, dan berbayar sebelum mahasiswa lulus. Langkah tersebut dinilai krusial untuk meningkatkan daya saing lulusan.

Tanpa penyesuaian tersebut, minat generasi muda untuk menempuh pendidikan tinggi diperkirakan akan terus menurun seiring ketatnya pasar kerja.

Sumber:

l3

BERITA TERKAIT

Berita Lainnya