Khutbah Jumat 6 Februari 2026 Angkat Perintah Berpikir sebagai Fondasi Keimanan

Khutbah Jumat 6 Februari 2026 Angkat Perintah Berpikir sebagai Fondasi Keimanan

masjid-pixabay-

Allah SWT menciptakan manusia dengan keistimewaan yang tidak diberikan kepada makhluk lain, yakni akal dan kemampuan berpikir. Dengan anugerah inilah manusia dibedakan, dimuliakan, sekaligus dibebani tanggung jawab untuk mengelola kehidupannya sesuai dengan petunjuk Ilahi.

Khutbah Jumat kali ini mengangkat tema Perintah Berpikir, sebuah pesan fundamental dalam ajaran Islam yang menegaskan bahwa iman tidak berdiri di atas kebekuan akal, melainkan tumbuh melalui kesadaran, perenungan, dan pemahaman yang jernih.



Dalam ajaran Islam, aktivitas berpikir bukan sekadar kemampuan intelektual, tetapi bagian dari ibadah. Al-Qur’an berulang kali menyeru manusia untuk menggunakan akalnya melalui berbagai istilah seperti ta’qilun, tatafakkarun, tatadabburun, tafaqqahun, dan tadzakkarun.

Beragam istilah tersebut menunjukkan bahwa berpikir memiliki banyak dimensi, mulai dari merenungi ciptaan Allah, memahami hukum-hukum-Nya, hingga mengambil pelajaran dari peristiwa kehidupan. Semua ini menjadi bagian dari risalah kenabian yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Sejak awal turunnya wahyu, Islam telah menempatkan aktivitas intelektual sebagai fondasi peradaban. Perintah pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW bukanlah instruksi ritual, melainkan seruan untuk membaca dan belajar.


Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Alaq ayat 1–5 yang menegaskan perintah membaca, belajar, dan memahami pengetahuan sebagai jalan mengenal kebesaran-Nya. Ayat ini menjadi penanda bahwa kebangkitan umat dimulai dari kesadaran intelektual.

Turunnya wahyu tersebut sekaligus menjadi jawaban atas kondisi masyarakat Arab kala itu yang terjerumus dalam kezaliman dan kebodohan. Era jahiliah mencerminkan kerusakan kemanusiaan akibat ditinggalkannya fungsi berpikir yang sehat.

Berbagai bencana sosial dan moral pada hakikatnya bersumber dari keengganan manusia untuk menggunakan akalnya secara jernih. Pikiran yang dikuasai hawa nafsu akan menjauhkan manusia dari kebenaran, keadilan, dan keseimbangan.

Al-Qur’an bahkan memberikan perumpamaan keras terhadap orang-orang yang menuhankan hawa nafsunya dan menolak menggunakan akal. Mereka disamakan dengan binatang ternak, bahkan dinilai lebih sesat jalannya.

Gambaran ini menegaskan bahwa kesesatan bukan semata-mata karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena penolakan untuk berpikir dengan hati yang bersih dan akal yang tunduk pada petunjuk Allah.

Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya kecerdasan spiritual dan intelektual dalam sebuah hadis. Orang cerdas adalah mereka yang mampu mengevaluasi diri dan mempersiapkan amal untuk kehidupan setelah mati.

Sebaliknya, orang yang lemah akalnya digambarkan sebagai mereka yang hanya mengikuti hawa nafsu dan sibuk berangan-angan tanpa diiringi ketaatan dan amal nyata.

Dari sini dapat dipahami bahwa berpikir dalam Islam bukanlah aktivitas bebas nilai, melainkan proses yang harus diarahkan untuk memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, dan menunaikan tanggung jawab sebagai hamba Allah.

Berpikir yang benar akan melahirkan kesadaran akan kehidupan akhirat, menumbuhkan sikap introspektif, serta mendorong manusia untuk beramal saleh secara konsisten.

Baca juga: Prediksi Susunan Pemain PSM Makassar Hadapi Semen Padang di Pekan ke-19 Super League

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya