Sebelum Mundur, Ini Sikap Dirut BEI Merespons Kebijakan MSCI

Sebelum Mundur, Ini Sikap Dirut BEI Merespons Kebijakan MSCI

--

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Iman Rachman, secara mengejutkan menyatakan mundur dari jabatannya pada Jumat, 30 Januari 2026. Pengunduran diri itu disampaikan di tengah tekanan hebat yang melanda pasar saham Indonesia setelah kebijakan lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International.

Keputusan tersebut diumumkan langsung di hadapan wartawan di Press Room Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Momentum pengunduran diri Iman bertepatan dengan gejolak tajam Indeks Harga Saham Gabungan yang sempat berfluktuasi ekstrem pada pagi hari perdagangan.

IHSG Bergejolak di Tengah Pengumuman Mundur



Pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, IHSG sempat bergerak di zona hijau di kisaran 8.300-an. Namun, tak berselang lama, indeks kembali tertekan dan turun lebih dari 100 poin sebelum berbalik arah.

Tekanan pasar tersebut merupakan kelanjutan dari dua hari sebelumnya, ketika perdagangan saham pada 28 dan 29 Januari 2026 harus dihentikan sementara selama 30 menit akibat pelemahan intraday mencapai delapan persen.

Dalam sepekan terakhir, aksi jual investor asing tercatat cukup besar dengan nilai penjualan bersih mendekati Rp11 triliun. Kondisi ini mencerminkan derasnya arus keluar dana di tengah meningkatnya kekhawatiran global.

Imbas Kebijakan MSCI terhadap Pasar Saham


Gejolak pasar tidak terlepas dari pengumuman MSCI pada Rabu, 28 Januari 2026, yang membekukan sementara penyesuaian indeks saham Indonesia. Penyesuaian tersebut sejatinya dijadwalkan berlaku pada Februari.

Selain pembekuan rebalancing, MSCI juga menyampaikan peringatan keras terkait kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia dari kategori emerging market menjadi frontier market apabila perbaikan struktural tidak dilakukan.

Peringatan tersebut didasarkan pada penilaian MSCI terhadap fundamental pasar saham Indonesia, terutama terkait kepemilikan saham yang dinilai terlalu terkonsentrasi, rendahnya porsi saham publik, serta kualitas data investor yang dianggap belum memadai.

Tanggung Jawab dan Keputusan Mundur

Dalam pernyataannya, Iman Rachman menegaskan bahwa pengunduran diri tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral atas kondisi pasar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Ia menyampaikan bahwa meskipun gejolak pasar dipicu oleh faktor eksternal, pimpinan bursa tetap harus mengambil sikap atas dampak yang dirasakan pelaku pasar domestik.

Permintaan Perlakuan Setara kepada MSCI

Sebelum mundur, Iman secara terbuka menyampaikan sikap BEI terhadap kebijakan MSCI. Dalam konferensi pers pada 28 Januari 2026, ia menyatakan bahwa BEI menghormati evaluasi yang dilakukan MSCI sejak Oktober 2025.

Namun, BEI meminta agar MSCI menerapkan perlakuan yang setara terhadap Indonesia dibandingkan bursa lain yang menjadi konstituen indeks global.

Menurut Iman, terdapat sejumlah usulan dan pendekatan yang diterapkan MSCI kepada Indonesia yang dinilai tidak diberlakukan di pasar lain. Oleh karena itu, BEI meminta penilaian yang adil sebagai bagian dari indeks global.

Penilaian Dampak Jangka Pendek

Iman mengakui bahwa peringatan MSCI memicu kekhawatiran investor dan berkontribusi pada tekanan jual di pasar saham. Meski demikian, ia menilai dampak jangka pendek masih relatif terbatas.

Berdasarkan pembacaan BEI, bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI yang mencakup 18 emiten diperkirakan tetap berada di kisaran 1,5 hingga 1,9 persen hingga periode evaluasi berikutnya.

Isu Free Float dan Data Kepemilikan

Salah satu sorotan utama MSCI adalah kualitas dan transparansi data kepemilikan saham publik atau free float. Khususnya, MSCI menilai masih terdapat pencampuran kategori investor dalam data kustodian.

Dalam sistem yang berlaku, pemegang saham dengan kepemilikan di bawah lima persen dikategorikan sebagai free float, sementara di atas ambang tersebut dianggap sebagai pemegang kendali.

MSCI mempersoalkan penggunaan data kustodian yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan likuiditas riil saham karena masih menggabungkan berbagai tipe investor.

Langkah Perbaikan yang Ditempuh BEI

Iman menjelaskan bahwa BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan dan Kustodian Sentral Efek Indonesia telah melakukan komunikasi intensif dengan MSCI sejak tahun lalu, termasuk pertemuan langsung di Amerika Serikat.

BEI juga telah mengajukan sejumlah opsi untuk memperjelas perhitungan free float, termasuk pemisahan kategori investor korporasi agar lebih mencerminkan karakter investor yang aktif bertransaksi.

Sejak awal Januari 2026, BEI mulai menampilkan data free float yang lebih rinci berdasarkan segmen investor di laman resminya. Investor yang sebelumnya masuk kategori umum diminta merinci statusnya, seperti pengelola aset, dana pensiun, atau dana kelolaan lainnya.

Edukasi Pasar Global

Iman menegaskan bahwa langkah perbaikan ini tidak semata ditujukan untuk memenuhi permintaan MSCI, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas dan transparansi pasar modal nasional.

Ia menyebut bahwa struktur investor di Indonesia memiliki karakteristik tersendiri, di mana banyak institusi keuangan domestik aktif melakukan perdagangan dan tidak hanya bersifat buy and hold.

Seluruh data yang disajikan BEI bersifat terbuka dan dapat diakses publik, serta disampaikan sesuai dengan ketentuan hukum dan regulasi yang berlaku.

Apresiasi dari Pengamat

Pengunduran diri Iman Rachman mendapat apresiasi dari pengamat pasar keuangan. Sikap tersebut dinilai mencerminkan integritas dan tanggung jawab, meski kejatuhan pasar bukan sepenuhnya disebabkan oleh kebijakan internal bursa.

Pengamat menilai bahwa tekanan dari MSCI merupakan faktor eksternal yang berada di luar kendali langsung manajemen BEI, namun respons yang diambil menunjukkan komitmen terhadap tata kelola.

Menanti Evaluasi Mei

MSCI memberikan tenggat hingga Mei 2026 untuk melihat kemajuan konkret dalam perbaikan struktur dan transparansi pasar saham Indonesia.

Periode tersebut akan menjadi penentu arah selanjutnya, apakah Indonesia mampu mempertahankan posisinya sebagai pasar berkembang atau menghadapi risiko penurunan status.

Di tengah masa transisi kepemimpinan BEI, pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan regulator dan otoritas pasar modal untuk memulihkan kepercayaan investor.

Sumber:

l3

BERITA TERKAIT

Berita Lainnya