Nurul Akmal Pertanyakan Status PPPK Paruh Waktu di Tengah Deretan Prestasi Internasional
Nurul -Instagram-
Lifter nasional Nurul Akmal menyuarakan kegundahannya setelah hanya mendapat status PPPK Paruh Waktu di lingkungan pemerintahan daerah Aceh. Padahal, sepanjang kariernya ia konsisten membawa nama Indonesia di berbagai ajang internasional.
Ungkapan itu disampaikan Nurul melalui akun Instagram pribadinya dengan mengunggah momen pelantikan. Dalam unggahan tersebut, ia menyinggung pencapaiannya sebagai atlet yang telah berulang kali tampil di Olimpiade, SEA Games, hingga Asian Games.
Ia menyebut tetap bersyukur dengan status yang diterima, meski tidak menutupi rasa kecewa. Nurul menandai sejumlah tokoh olahraga dan nasional sebagai bentuk harapan agar persoalannya mendapat perhatian.
Respons Atlet dan Publik
Unggahan tersebut langsung memantik respons luas. Sejumlah atlet nasional turut menyampaikan empati, termasuk dari cabang panjat tebing dan atletik, yang mengekspresikan dukungan melalui kolom komentar.
Bagi Nurul, status PPPK Paruh Waktu jauh dari ekspektasi. Ia menilai kontribusinya sebagai atlet nasional seharusnya bisa mendapat pengakuan yang lebih layak, terutama dalam jaminan masa depan.
Rekam Jejak Sejarah Nurul Akmal
Nurul bukan sekadar atlet pelatnas. Ia mencatat sejarah sebagai lifter putri Indonesia pertama yang lolos ke kelas berat Olimpiade Tokyo 2020, sebuah nomor yang jarang diisi atlet Indonesia.
Ia juga menjadi atlet pertama asal Aceh yang tampil di Olimpiade setelah penantian lebih dari tiga dekade. Pencapaian tersebut menempatkan namanya dalam catatan penting olahraga nasional.
Deretan prestasi lain turut mengiringi kariernya, mulai dari medali perak Islamic Solidarity Games 2017, emas test event Asian Games 2018, hingga podium di Qatar Cup dan Kejuaraan Asia.
Di tingkat regional, Nurul mengoleksi dua perak SEA Games 2021 dan 2023. Sementara di ajang nasional, ia rutin mempersembahkan emas PON untuk Aceh.
Status Kepegawaian Jadi Sorotan
Meski memiliki rekam jejak panjang, Nurul hanya diangkat sebagai PPPK Paruh Waktu pada posisi Penata Pelayanan Operasional di UPTD Gelanggang Pemuda dan Olahraga Harapan Bangsa, Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh.
Ia menilai kebijakan apresiasi pemerintah yang memprioritaskan peraih emas SEA Games dan Asian Games membuat banyak atlet berprestasi lain berada di posisi sulit.
Kendala Teknis Seleksi
Nurul menjelaskan, pada tahap pertama seleksi PPPK penuh waktu tahun 2024, dirinya masih menjalani pemusatan latihan nasional dan mengikuti Kejuaraan Asia di Bahrain.
Ia baru mengikuti seleksi tahap kedua pada 2025, namun tidak lolos dan akhirnya ditempatkan sebagai PPPK Paruh Waktu. Informasi tersebut diterimanya pada November 2025, sebelum dilantik Januari 2026.