Film Esok Tanpa Ibu (2026) Dibintangi Dian Sastro Apakah Lanjut Season 2?
Esok-Instagram-
Film Esok Tanpa Ibu (2026) Dibintangi Dian Sastro Apakah Lanjut Season 2? Ketika Cinta Ibu Abadi dalam Pelukan Teknologi AI
Di tengah derasnya arus teknologi yang terus mengubah cara manusia berinteraksi, hadir sebuah kisah haru yang menyentuh relung terdalam hati penonton: Esok Tanpa Ibu. Film keluarga terbaru ini tidak hanya menawarkan narasi emosional tentang ikatan ibu dan anak, tetapi juga menggali pertanyaan filosofis tentang keabadian cinta melalui kecerdasan buatan. Dibintangi oleh sederet aktor papan atas Indonesia—Dian Sastrowardoyo, Ali Fikry, dan Ringgo Agus Rahman—film ini menjadi sorotan utama di awal tahun 2026.
Kisah Laras: Ibu yang Tak Bisa Bangun, Tapi Tetap Hadir
Laras, tokoh utama yang diperankan dengan apik oleh Dian Sastrowardoyo, adalah seorang ibu yang terbaring koma setelah mengalami kecelakaan tragis. Namun, meski tubuhnya tak mampu merespons dunia nyata, kehadirannya tetap dirasakan oleh keluarganya—berkat sebuah inovasi teknologi bernama “I-BU”.
“I-BU” bukan sekadar asisten virtual biasa. Ini adalah sistem kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan khusus untuk mereplikasi kepribadian, suara, memori, bahkan pola pikir Laras. Berbekal data percakapan lama, rekaman video, surat-surat pribadi, hingga catatan harian digital, tim ilmuwan berhasil menciptakan versi digital dari sang ibu yang bisa diajak berdialog, memberi nasihat, bahkan bercanda layaknya Laras yang sesungguhnya.
Bagi keluarganya—terutama sang suami (diperankan oleh Ringgo Agus Rahman) dan putranya yang masih remaja (Ali Fikry)—kehadiran “I-BU” menjadi jembatan emosional yang menyambungkan masa lalu dan masa depan. Mereka bisa “bertemu” Laras setiap hari, mendengar suaranya, dan merasa bahwa sang ibu belum benar-benar pergi.
Dian Sastro Kembali Tunjukkan Kedalaman Akting
Dian Sastrowardoyo, yang selama ini dikenal lewat perannya sebagai tokoh kuat dan mandiri, kali ini tampil dalam dua dimensi: sebagai Laras yang hidup dalam kilasan memori, dan sebagai “versi AI” yang hadir secara visual melalui proyeksi holografik. Meski sebagian besar adegannya dilakukan dalam keadaan diam atau terbaring, ekspresi matanya, gerakan halus bibir, dan intonasi suara saat berdialog dengan “I-BU” berhasil menyampaikan kerinduan, ketakutan, dan harapan yang universal.
“Ini adalah tantangan akting yang unik,” ujar Dian dalam wawancara eksklusif dengan Sinergianews. “Saya harus mengekspresikan emosi tanpa banyak dialog fisik. Semua terletak pada tatapan dan energi yang saya pancarkan.”
Sementara itu, Ali Fikry membuktikan kedewasaannya sebagai aktor muda dengan peran sebagai Arka, remaja yang berjuang memahami arti kehilangan. Adegan-adegan antara Arka dan “I-BU” menjadi salah satu puncak emosional film ini—di mana rasa marah, bingung, dan akhirnya penerimaan ditampilkan dengan sangat natural.
Ringgo Agus Rahman, yang biasanya dikenal lewat komedi, justru menunjukkan sisi dramatisnya yang menyayat hati sebagai seorang suami yang berusaha menjaga keluarga tetap utuh meski kehilangan sosok sentral di dalamnya.