Mencintai Rasulullah SAW dengan Mengikuti Sunnahnya! Inilah Khutbah Jumat 23 Januari 2026
masjid-mostafa_meraji/pixabay-
Rasulullah SAW merupakan teladan utama bagi seluruh umat Islam dalam setiap aspek kehidupan. Karena itu, mencintai Rasulullah SAW bukan sekadar ungkapan lisan, melainkan harus diwujudkan melalui ketaatan dan pengamalan sunnah yang beliau ajarkan.
Dalam khutbah Jumat kali ini, tema yang diangkat adalah tentang kewajiban mencintai Rasulullah SAW. Cinta kepada Rasulullah SAW merupakan bagian pokok dari keimanan dan menjadi konsekuensi dari syahadat yang diikrarkan oleh setiap muslim.
Seorang muslim belum dikatakan memiliki iman yang sempurna hingga ia mencintai Rasulullah SAW melebihi kecintaannya kepada orang tua, anak, harta, bahkan dirinya sendiri. Kecintaan ini merupakan bukti nyata keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Namun demikian, masih banyak umat Islam yang keliru dalam memaknai cinta kepada Rasulullah SAW. Sebagian orang menganggap cinta kepada Nabi cukup diwujudkan melalui perayaan seremonial tertentu, padahal Rasulullah SAW tidak pernah mencontohkan amalan-amalan tersebut.
Rasulullah SAW, para sahabat, tabi'in, dan tabiut tabi'in tidak pernah melakukan perayaan maulid atau ritual khusus yang diklaim sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi. Seandainya hal tersebut merupakan kebaikan, tentu generasi terbaik umat ini telah lebih dahulu melakukannya.
Ironisnya, sebagian orang yang mengaku mencintai Rasulullah SAW justru meninggalkan sunnah beliau. Bahkan tidak sedikit yang terjerumus dalam perbuatan maksiat, meninggalkan kewajiban, serta melakukan perkara-perkara yang jelas dilarang dalam ajaran Islam.
Mengaku cinta kepada Rasulullah SAW tetapi tidak mengikuti sunnahnya merupakan pengakuan tanpa bukti. Cinta sejati kepada Nabi harus tercermin dalam ketaatan terhadap perintah dan larangan beliau, serta kesungguhan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Allah SWT menegaskan bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus berada di atas kecintaan terhadap segala sesuatu di dunia. Bahkan Rasulullah SAW lebih berhak atas diri orang-orang beriman dibandingkan diri mereka sendiri.
Allah SWT juga memerintahkan umat manusia untuk mengikuti Rasulullah SAW sebagai bukti kecintaan kepada-Nya. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seorang hamba akan mendapatkan cinta Allah dan ampunan atas dosa-dosanya.
Rasulullah SAW bersabda bahwa seseorang tidak akan mencapai kesempurnaan iman hingga beliau lebih dicintai daripada orang tua, anak, dan seluruh manusia. Bahkan kecintaan itu harus melebihi kecintaan kepada diri sendiri.
Para ulama sepakat bahwa makna mencintai Rasulullah SAW adalah dengan mengikuti petunjuknya, mengamalkan sunnahnya, membela syariatnya, serta mencintai orang-orang yang beliau cintai, seperti keluarga dan para sahabat.
Mencintai Rasulullah SAW juga berarti membenci segala sesuatu yang beliau benci, seperti perbuatan bid'ah, syirik, khurafat, tahayul, dan berbagai bentuk kemaksiatan lainnya yang merusak keimanan.
Allah SWT memuji akhlak Rasulullah SAW sebagai akhlak yang agung dan menjadikannya sebagai suri teladan terbaik bagi umat manusia. Rasulullah SAW adalah panutan bagi siapa saja yang mengharapkan rahmat Allah dan keselamatan di akhirat.
Orang yang benar-benar mencintai Rasulullah SAW akan senantiasa berusaha meneladani akhlaknya, mematuhi ajarannya, dan menjadikan sunnah sebagai pedoman hidup. Tanpa hal tersebut, kecintaan yang diucapkan hanyalah klaim tanpa dasar.
Para ulama menyebutkan bahwa tanda-tanda mencintai Rasulullah SAW di antaranya adalah mengikuti sunnah beliau, mendahulukan syariat atas hawa nafsu, sering menyebut nama beliau, merindukan perjumpaan dengannya, serta mencintai Al-Qur'an yang dibawanya.
Selain itu, mencintai Rasulullah SAW juga tercermin dari kecintaan kepada umat Islam, keinginan untuk menasihati mereka, serta sikap zuhud terhadap gemerlap dunia demi mengharap ridha Allah SWT.
Baca juga: Apakah Anda Termasuk Calon Penerima BLT Kesra 2026? Ini Ketentuan Lengkapnya