Membangun Kebaikan di Era Teknologi serta Menjaga Akhlak Digital di Tengah Arus Informasi yang Tak Terbendung! Inilah Teks Khutbah Jumat 16 Januari 2026
masjid-pixabay-
Membangun Kebaikan di Era Teknologi serta Menjaga Akhlak Digital di Tengah Arus Informasi yang Tak Terbendung! Inilah Teks Khutbah Jumat 16 Januari 2026
Di tengah derasnya arus transformasi digital yang menyentuh hampir setiap aspek kehidupan, umat Islam ditantang untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pelopor kebaikan di dunia maya. Khutbah Jumat tanggal 16 Januari 2026 mengangkat tema yang sangat relevan dengan realitas kekinian: “Membangun Kebaikan di Era Teknologi”. Tema ini bukan sekadar seruan moral, melainkan panduan spiritual yang mengajak umat untuk menjadikan iman dan akhlak sebagai kompas dalam berinteraksi di ruang digital.
Kebaikan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadis, adalah sifat yang dicintai oleh Allah SWT. Bahkan, setiap amal baik—sekecil apa pun—tidak akan pernah luput dari perhatian-Nya. Di era ketika jari-jari tangan lebih cepat mengetik daripada berpikir, penting bagi kita untuk senantiasa mengingat bahwa teknologi bukanlah netral; ia bisa menjadi sarana pahala atau justru pintu dosa, tergantung bagaimana kita menggunakannya.
Teknologi: Anugerah yang Perlu Dikelola dengan Hikmah
Dalam khutbah yang dirangkum dari sumber resmi Universitas Muhammadiyah Jember (unmuhjember.ac.id), khatib membuka dengan puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan petunjuk kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Beliau menegaskan bahwa di tengah kemudahan akses informasi, hiburan instan, dan konektivitas global, umat Islam harus tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip agama.
“Navigasi digital,” demikian istilah yang digunakan dalam khutbah, “bukan sekadar soal klik dan scroll, melainkan perjalanan spiritual yang membutuhkan kearifan.” Dunia maya, meski tak kasat mata, tetaplah bagian dari realitas sosial yang diawasi oleh Allah. Setiap unggahan, komentar, like, bahkan diam terhadap konten buruk, memiliki konsekuensi di sisi-Nya.
Lima Tantangan Utama Navigasi Digital bagi Umat Islam
Khutbah tersebut secara sistematis menguraikan lima tantangan utama yang dihadapi kaum muslimin dalam berinteraksi dengan teknologi digital:
1. Serbuan Konten Negatif
Internet ibarat pasar terbuka tanpa penjaga gerbang. Di dalamnya, konten-konten yang bertentangan dengan nilai Islam—seperti pornografi, ujaran kebencian, dan ideologi sesat—dengan mudah menyebar. Al-Qur’an dalam Surah An-Nisa ayat 31 mengingatkan:
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).”
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Apa yang aku larang, maka jauhilah. Apa yang aku perintahkan, lakukanlah semampumu.” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, filter pertama harus berasal dari dalam diri: kesadaran untuk memilih konten yang edukatif, inspiratif, dan sesuai dengan akidah.
2. Wabah Hoaks dan Berita Palsu
Era digital memungkinkan siapa saja menjadi “wartawan”, namun tidak semua memiliki integritas jurnalistik. Penyebaran hoaks bukan hanya merugikan secara sosial, tetapi juga termasuk dosa besar karena dapat menimbulkan fitnah dan permusuhan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti…”
Verifikasi sebelum berbagi bukan sikap skeptis, melainkan bentuk tanggung jawab sosial dan ketaatan kepada Allah.
3. Krisis Akhlak Digital
Media sosial kerap menjadi ajang pamer, gosip, atau bahkan bullying. Padahal, Islam mengajarkan agar setiap ucapan—termasuk tulisan—harus dijaga. Surah As-Sajdah ayat 12 menggambarkan penyesalan orang-orang di akhirat yang ingin dikembalikan ke dunia demi berbuat baik. Ini menjadi pengingat bahwa setiap interaksi digital adalah investasi akhirat.
Umat Islam diajak untuk menjadi “pengguna santun”: tidak menyebarkan fitnah, tidak merendahkan orang lain, dan selalu menggunakan kata-kata yang membangun.
4. Pemborosan Waktu di Dunia Maya
Scroll media sosial berjam-jam tanpa tujuan jelas kini menjadi kebiasaan banyak orang. Padahal, waktu adalah nikmat yang sering dilupakan. Surah Al-‘Ashr membuka dengan sumpah ilahi:
“Demi masa! Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian…”
Rasulullah SAW bersabda:
“Ada dua nikmat yang banyak manusia lalai mensyukurinya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Maka, bijaklah dalam mengelola waktu. Gunakan teknologi untuk belajar, berdakwah, atau mempererat silaturahmi—bukan sekadar mengisi kekosongan.
5. Ancaman terhadap Privasi dan Keamanan Data
Di era big data, informasi pribadi bisa menjadi komoditas. Banyak aplikasi meminta akses ke kontak, lokasi, bahkan kamera tanpa transparansi. Islam sangat menjunjung tinggi privasi. QS. Al-Hujurat ayat 12 melarang prasangka buruk dan mengintip aib orang lain—prinsip ini juga berlaku dalam konteks digital.
Kaum muslimin diajak untuk waspada: jangan sembarangan membagikan data pribadi, foto keluarga, atau lokasi rumah. Keamanan digital adalah bagian dari menjaga amanah.
Solusi Islami: Jadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai Panduan Digital
Menghadapi kompleksitas dunia digital, solusi tidak datang dari sekadar literasi teknologi, tetapi dari literasi spiritual. Khatib menekankan bahwa Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW adalah sumber utama dalam merancang etika digital yang islami.
Dengan memperkuat iman, meningkatkan pemahaman agama, dan senantiasa introspeksi diri, umat Islam dapat: