Menggali Hikmah Bulan Rajab dan Peristiwa Isra Mi’raj dalam Bingkai Iman dan Ketakwaan! Inilah Teks Khutbah Jumat 16 Januari 2026

Menggali Hikmah Bulan Rajab dan Peristiwa Isra Mi’raj dalam Bingkai Iman dan Ketakwaan! Inilah Teks Khutbah Jumat 16 Januari 2026

masjid-pixabay-


Menggali Hikmah Bulan Rajab dan Peristiwa Isra Mi’raj dalam Bingkai Iman dan Ketakwaan! Inilah Teks Khutbah Jumat 16 Januari 2026

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat, umat Islam kembali diingatkan akan momen spiritual yang sarat makna: Bulan Rajab dan peristiwa agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Pada Jumat, 16 Januari 2026, bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1447 Hijriah, seluruh umat Muslim di penjuru dunia—termasuk di Indonesia—diberi kesempatan emas untuk merenung, memperbarui niat, dan menguatkan iman melalui khutbah Jumat yang menyentuh hati.



Bulan Rajab bukan sekadar penanda pergantian waktu. Ia adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT sejak penciptaan langit dan bumi. Sebagaimana firman-Nya dalam Surat At-Taubah ayat 36:

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

Empat bulan suci tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Di antara keempatnya, Rajab memiliki keistimewaan tersendiri karena menjadi saksi bisu atas salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah kenabian: Isra Mi’raj.


Isra Mi’raj: Bukti Nyata Kekuasaan Ilahi
Peristiwa Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab, tepatnya pada tahun kedelapan kenabian. Dalam satu malam saja, Rasulullah SAW diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, lalu naik ke Sidratul Muntaha, tempat paling tinggi dalam perjalanan spiritual manusia. Ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan manifestasi cinta Ilahi kepada hamba pilihan-Nya dan ujian iman bagi umatnya.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 1:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra: 1)

Ayat ini menjadi fondasi keyakinan umat Islam bahwa Isra Mi’raj adalah kenyataan historis dan spiritual, bukan sekadar kisah simbolis. Bahkan, dalam Surat An-Najm ayat 13–18, Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad benar-benar melihat Jibril dalam wujud aslinya—makhluk agung dengan ratusan sayap yang memenuhi ufuk langit.

Makna Spiritual di Balik Bulan Rajab
Kata “Rajab” berasal dari akar kata Arab “tarjīb”, yang berarti pengagungan, kemuliaan, dan penghormatan. Pada masa jahiliyah, bangsa Arab pun menghormati bulan ini dengan menghentikan peperangan dan menjadikannya sebagai masa damai. Namun, Islam memberikan dimensi yang lebih dalam: Rajab bukan hanya waktu untuk berhenti berperang, tapi kesempatan emas untuk berperang melawan hawa nafsu, memperbanyak ibadah, dan membersihkan hati.

Meski tidak ada ibadah khusus yang diwajibkan di bulan Rajab seperti di Ramadhan atau Dzulhijjah, para ulama menganjurkan umat Islam untuk:

Memperbanyak zikir, istighfar, dan shalawat
Menjaga lisan dan perbuatan dari dosa
Memperkuat hubungan silaturahmi
Berpuasa sunnah, terutama pada hari-hari tertentu seperti Senin-Kamis
Sebab, bulan haram adalah waktu di mana dosa lebih besar ganjarannya, namun pahala juga dilipatgandakan. Inilah momentum untuk “reset” spiritual sebelum memasuki bulan Sya’ban dan Ramadhan.

Khutbah Jumat: Seruan untuk Kembali pada Takwa
Berikut cuplikan khutbah Jumat resmi dari Kementerian Agama Republik Indonesia yang dapat menjadi panduan para khatib:

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ فَضَّلَنَا بِشَهْرِ رَجَبَ، وَهُوَ الَّذِيْ اصْطَفَى نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا ﷺ الْمُجْتَبَى الْمُؤَيَّد...

“Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan kita dengan bulan Rajab, dan Dialah yang memilih Nabi kita Muhammad SAW, yang terpilih dan dikuatkan...”

Dalam khutbah tersebut, khatib mengajak jemaah untuk meningkatkan ketakwaan—bukan hanya dalam ritual, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan. Takwa, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an, adalah kunci kemenangan:

“Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam keberuntungan.” (QS. At-Talaq: 2)

Isra Mi’raj dan Relevansinya di Era Modern
Di zaman digital ini, ketika informasi menyebar cepat namun nilai-nilai moral kerap tergerus, kisah Isra Mi’raj hadir sebagai penyeimbang spiritual. Perjalanan Nabi SAW bukan hanya soal langit dan bumi, tapi juga tentang:

Ketaatan tanpa syarat kepada Sang Pencipta
Kesabaran dalam ujian, karena peristiwa ini terjadi setelah Tahun Duka Cita (‘Amul Huzn) saat Nabi kehilangan istri tercinta Khadijah dan paman pelindungnya Abu Thalib
Tanggung jawab dakwah, sebab pada malam itu pula shalat lima waktu diwajibkan kepada umat Islam
Shalat, yang diturunkan langsung dari langit ke bumi, menjadi inti ibadah harian yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya—tanpa perantara, tanpa ritual rumit, hanya dengan kehadiran hati dan keikhlasan.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya