Nisya Tertangkap Basah Jadi Pramugari Gadungan: Rela Beli Tiket dan Pakai ID Card Jadul, Aksinya Terbongkar Saat On Board, Benarkah Demi Bahagiakan Orang Tua?

Nisya Tertangkap Basah Jadi Pramugari Gadungan: Rela Beli Tiket dan Pakai ID Card Jadul, Aksinya Terbongkar Saat On Board, Benarkah Demi Bahagiakan Orang Tua?

Nisya--

Nisya Tertangkap Basah Jadi Pramugari Gadungan: Rela Beli Tiket dan Pakai ID Card Jadul, Aksinya Terbongkar Saat On Board, Benarkah Demi Bahagiakan Orang Tua?

Sebuah insiden nyeleneh mengguncang dunia penerbangan domestik ketika seorang perempuan bernama Nisya, warga Muara Kuang, Sumatera Selatan, tertangkap basah menyamar sebagai pramugari maskapai Batik Air. Aksi nekatnya yang berujung viral di media sosial ini bukan hanya mencuri perhatian publik, tetapi juga memicu kekhawatiran serius soal keamanan penerbangan dan integritas prosedur boarding di bandara.



Nisya, yang diduga hanya seorang warga sipil tanpa latar belakang profesi penerbangan, tampil meyakinkan layaknya awak kabin profesional. Ia datang ke Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, dengan pakaian seragam pramugari lengkap, koper roda, hingga menunjukkan ID Card—meski ternyata palsu—demi meyakinkan petugas dan penumpang bahwa dirinya adalah bagian dari kru penerbangan.

Namun sayang, sandiwara Nisya berakhir tragis. Penyamarannya terbongkar di tengah penerbangan rute Palembang–Singapura, saat salah satu awak kabin asli meminta konfirmasi identitasnya. Saat itu, Nisya gagal menjawab pertanyaan standar yang biasanya diketahui oleh pramugari aktif, seperti informasi penerbangan, kode darurat, atau prosedur keselamatan. Lebih mencurigakan lagi, ID Card yang ditunjukkannya ternyata menggunakan desain lama—yang menurut sumber dalam industri penerbangan, sudah tidak digunakan sejak 15 tahun lalu.

Aksi Nekat: Beli Tiket demi Ikut “On Board”
Yang paling mengejutkan dari kasus ini adalah upaya Nisya yang rela mengeluarkan uang untuk membeli tiket penerbangan, bukan untuk bepergian, melainkan demi bisa menyusup ke dalam kabin pesawat dan berbaur dengan awak kabin asli.


“BTW, ini orang bisa onboard karena beli tiket, dikira mungkin extra cabin crew,” ungkap pemilik akun X @ndymanoballl, yang pertama kali membeberkan kejadian ini pada Rabu, 7 Januari 2025.

Akun tersebut juga menyayangkan sikap Nisya yang disebut terlalu “halu” (khayalan berlebihan), mengingat profesi pramugari merupakan posisi bergengsi yang melalui proses seleksi ketat, pelatihan intensif, dan sertifikasi khusus.

“Gila mbaknya energinya banyak banget nyamar jadi pramugari. Orang ini mengaku sebagai cabin crew. Mbak please jangan halu, kalau mau jadi pramugari ikut recruitment, belajar—jangan haluu…” tulis pemilik akun, yang lalu dikutip luas oleh netizen hingga media daring.

Kejadian ini pun menyulut gelombang diskusi di berbagai platform media sosial. Banyak warganet yang mengecam aksi Nisya karena dianggap merusak citra profesi pramugari dan berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan. Namun, tak sedikit pula yang bersimpati, menganggap bahwa dorongan psikologis dan impian yang terlalu besar mungkin menjadi akar dari tindakannya.

Respons Otoritas Bandara dan Maskapai
Sesampainya di Bandara Changi, Singapura, Nisya langsung diamankan oleh petugas Avsec (Aviation Security) yang sudah menunggu di pintu keluar pesawat. Ia kemudian menjalani pemeriksaan lebih lanjut terkait motif, alat bukti, dan potensi pelanggaran terhadap regulasi penerbangan internasional.

Sementara itu, pihak Batik Air hingga kini belum memberikan pernyataan resmi. Namun sumber internal mengungkapkan bahwa maskapai sedang melakukan investigasi internal, khususnya terkait kemungkinan celah prosedur boarding yang memungkinkan seseorang tanpa verifikasi keamanan bisa lolos sebagai kru penerbangan.

Insiden ini juga menyoroti pentingnya penguatan sistem verifikasi identitas di area sensitif bandara, terutama di titik-titik boarding gate dan transit crew. “Ini adalah red flag besar. Bagaimana bisa seseorang yang bukan awak kabin bisa masuk ke area operasional hanya dengan menunjukkan ID Card palsu dan membeli tiket biasa?” ujar seorang praktisi keselamatan penerbangan yang enggan disebutkan namanya.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya