Saham DADA Melesat, Antrean Beli Menggila: Ada Apa di Balik Euforia Investor?
saham-pixabay-
Saham DADA Melesat, Antrean Beli Menggila: Ada Apa di Balik Euforia Investor?
Pagi yang cerah di awal Januari 2026 justru disambut dengan gejolak luar biasa di pasar modal. Saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (kode emiten: DADA) melesat tajam hingga mencatatkan kenaikan lebih dari 20% sejak awal tahun, dengan antrean beli yang membludak hingga jutaan lot. Pergerakan ini menyita perhatian pelaku pasar, analis keuangan, hingga investor ritel yang mulai mengamati kembali prospek perusahaan properti yang pernah mengalami pasang surut dramatis ini.
Pada jeda sesi perdagangan pagi Rabu (7/1/2026), saham DADA bertengger di kisaran Rp60 per lembar—naik 20% secara year-to-date (YTD). Namun, sepanjang sesi tersebut, harga sempat melonjak hingga 34% ke level Rp67 per saham, didorong oleh antrean beli yang mencapai sekitar 6,12 juta lot. Angka ini mencerminkan tingginya minat investor, terutama dari kalangan ritel, yang tampaknya kembali percaya pada potensi jangka panjang DADA.
Kembalinya Minat Investor Ritel
Salah satu indikator paling mencolok dari kebangkitan minat terhadap DADA adalah kenaikan signifikan jumlah pemegang saham ritel. Berdasarkan data terbaru dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor individu yang memegang saham DADA per 30 November 2025 mencapai 73.893 orang, naik sebanyak 3.404 investor hanya dalam waktu sekitar tiga minggu dari posisi 7 November 2025 yang tercatat 71.159 orang.
Komposisi kepemilikan saham DADA saat ini terbagi menjadi tiga pihak utama: masyarakat umum (investor ritel) sebesar 69,93%, PT Karya Permata Inovasi Indonesia (KPII) sebesar 29,6%, dan Komisaris Tjandra Tjokrodiponto dengan kepemilikan 0,47%. Perubahan struktur kepemilikan ini menunjukkan bahwa DADA kini menjadi perusahaan yang lebih “dimiliki publik”, dengan dominasi investor individu yang kian menguat.
Jejak Volatilitas: Dari Suspensi hingga Puncak di Rp240
Perjalanan saham DADA tidaklah mulus. Sebelum euforia terkini, emiten properti ini sempat mengalami masa sulit. Hingga akhir Desember 2025, saham DADA masih berada di level “gocap” (Rp50–Rp99), setelah sebelumnya sempat disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) karena fluktuasi harga yang tidak wajar. Saham tersebut baru kembali diperdagangkan pada Oktober 2025, dan justru langsung mencatatkan reli spektakuler.
Bulan itu menjadi momen paling dramatis dalam sejarah perdagangan DADA: harga saham sempat menembus Rp240 per lembar—angka tertinggi sepanjang masa—sebelum koreksi tajam kembali membawanya turun ke level saat ini. Di balik reli tersebut, terjadi aksi divestasi besar-besaran oleh pemegang saham pengendali.
Aksi Korporasi: Divestasi KPII dan Strategi Pendanaan
Pada 10 Oktober 2025, tepat saat harga saham menyentuh puncaknya, PT Karya Permata Inovasi Indonesia (KPII)—sebelumnya pemegang saham mayoritas—melepas 2,14 miliar saham DADA. Dengan asumsi harga penutupan hari itu di level Rp152, transaksi tersebut diperkirakan memberikan dana segar bagi KPII mencapai Rp326,04 miliar.
Langkah ini bukan tanpa alasan strategis. Menurut keterangan resmi manajemen DADA, penjualan saham tersebut merupakan bagian dari strategi keuangan KPII untuk memenuhi kewajiban perbankan, menyediakan working capital support, sekaligus mendukung pengembangan proyek properti utama perusahaan—khususnya rumah tapak yang menjadi fokus bisnis DADA di tengah pemulihan sektor properti pasca-pandemi.
Akibat divestasi berkelanjutan tersebut, porsi kepemilikan KPII menyusut drastis dari 69,58% sebelum IPO menjadi hanya 29,6% per 23 Oktober 2025. Pergeseran ini tidak hanya mengubah struktur kepemilikan, tetapi juga mengirim sinyal kuat ke pasar bahwa DADA kini lebih independen dan siap untuk tumbuh di bawah dukungan investor publik.