Sal Priadi Syuting MV Gala Bunga Matahari di Jiwa Jawi, Kafe Milik Sitok Srengenge yang Dituduh Rudapaksa—Publik Marah, Musisi Beri Klarifikasi
Sal-Instagram-
Sal Priadi Syuting MV Gala Bunga Matahari di Jiwa Jawi, Kafe Milik Sitok Srengenge yang Dituduh Rudapaksa—Publik Marah, Musisi Beri Klarifikasi
Nama musisi indie ternama Sal Priadi kembali menjadi perbincangan hangat di jagat maya setelah terungkap bahwa ia pernah melakukan syuting video klip lagu terbarunya, Gala Bunga Matahari, di kafe Jiwa Jawi—milik seniman Sitok Srengenge, yang kini sedang dalam sorotan karena dugaan kasus kekerasan seksual terhadap mahasiswi Universitas Indonesia (UI). Temuan ini memicu gelombang protes dari warganet, terutama dari kalangan aktivis dan komunitas pejuang hak perempuan.
Lokasi Syuting yang Memantik Kontroversi
Segalanya bermula dari unggahan akun media sosial X (sebelumnya Twitter) dengan nama pengguna @jojowLenz, yang menyebut bahwa adegan seorang lansia dalam video klip Gala Bunga Matahari direkam di properti pribadi Sitok Srengenge. Unggahan tersebut langsung viral dan memicu penelusuran lebih lanjut oleh netizen.
“Barusan googling, di Jiwa Jawi resto ya,” tulis seorang warganet pada Jumat, 2 Januari 2025.
Respons cepat muncul dari pengguna lain: “Yup, rumah dan resto masih satu kompleks.”
Jiwa Jawi, yang terletak di Yogyakarta, bukan sekadar kafe biasa. Tempat ini dikenal sebagai ruang kultural yang sering menjadi lokasi diskusi seni, pertunjukan sastra, dan pertemuan komunitas kreatif. Namun, kini reputasinya tercoreng lantaran keterkaitannya dengan Sitok, yang dituduh melakukan tindakan rudapaksa terhadap seorang perempuan muda—kasus yang kini tengah ditangani secara hukum dan menjadi perhatian nasional.
Sal Priadi Angkat Bicara: “Saya Tidak Tahu soal Kasus Hukumnya”
Merespons kemarahan publik, Sal Priadi akhirnya buka suara melalui unggahan pribadinya. Ia mengaku tidak mengetahui latar belakang hukum yang melibatkan Sitok Srengenge saat melakukan syuting di lokasi tersebut.
“Saya main ke rumah anaknya, masuk rumahnya ada bapak dan ibunya, ngobrol selayaknya tamu, lalu diajak foto,” jelas Sal dalam keterangannya.
Ia menegaskan bahwa pertemuannya dengan Sitok terjadi dalam konteks kekeluargaan, bukan kolaborasi artistik atau dukungan terhadap sang seniman. “Mengetahui hal yang beredar, ternyata sudah jadi urusan hukum,” tulisnya, menunjukkan bahwa ia baru mengetahui tuduhan serius tersebut setelah foto kebersamaan mereka tersebar luas.
Tegas Tolak Kekerasan Seksual, Tapi Publik Tetap Kritis
Dalam klarifikasinya, Sal Priadi menegaskan posisinya yang jelas menentang segala bentuk kekerasan seksual. “Sikap saya clear, saya enggak bela,” ujarnya tegas.
Namun, meski ia menyatakan tidak terlibat dalam kasus hukum tersebut, banyak warganet tetap menyoroti implikasi etis dari penggunaan properti pelaku kekerasan sebagai lokasi syuting. Mereka mempertanyakan due diligence—apakah kru produksi dan tim kreatif Sal telah melakukan riset latar belakang sebelum memilih lokasi tersebut.
Beberapa komentar di media sosial menyebut bahwa meski tidak ada niat buruk, keputusan artistik tetap membawa konsekuensi sosial—terutama di tengah gerakan #MeToo dan peningkatan kesadaran publik terhadap isu kekerasan berbasis gender.