Anak 12 Tahun yang Bunuh Ibu Kandung, Ternyata Terinspirasi Kartun Detective Conan Episode 271 dan Game Online
Detective-Instagram-
Anak 12 Tahun yang Bunuh Ibu Kandung, Ternyata Terinspirasi Kartun Detective Conan Episode 271 dan Game Online
Sebuah tragedi memilukan mengguncang Kota Medan pada Rabu, 10 Desember 2025, ketika seorang anak berusia 12 tahun tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri. Kasus ini bukan hanya menyentuh sisi kemanusiaan, tetapi juga membuka perdebatan luas tentang pengaruh media digital terhadap perkembangan psikologis anak-anak di era modern.
Pelaku, berinisial SAS alias Al—seorang siswi kelas VI Sekolah Dasar—kini menjadi sorotan publik nasional bukan hanya karena usianya yang masih sangat belia, tetapi juga karena motif di balik tindakan sadisnya yang ternyata dipengaruhi oleh tontonan animasi Jepang dan permainan daring berkonten kekerasan.
Dendam yang Membara: Akar Konflik Keluarga
Menurut keterangan resmi dari Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, motif utama pembunuhan ini berakar pada konflik keluarga yang berkepanjangan. Al diketahui menyimpan dendam mendalam terhadap ibunya, Faizah Soraya, yang kerap menunjukkan sikap kasar terhadap anggota keluarga lainnya.
“Korban sering mengancam dan memarahi suami serta anak-anaknya. Ini bukan sekadar pertengkaran biasa, tapi pola kekerasan verbal yang berulang,” ungkap Kombes Calvijn dalam wawancara eksklusif dengan Kompas TV, Selasa (30/12/2025).
Dendam Al memuncak ketika ia menyaksikan sang kakak menjadi korban kekerasan fisik pada 22 November 2025. Saat itu, ibunya memukuli kakaknya dengan sapu dan ikat pinggang hingga meninggalkan luka di beberapa bagian tubuh. Insiden tersebut menjadi titik balik emosional bagi Al.
“Itu menjadi puncak kemarahan pelaku,” jelas Calvijn. “Ia merasa tidak berdaya, tetapi juga marah. Dan kemarahan itu lalu berubah menjadi keinginan untuk ‘menghentikan’ sumber masalah.”
Detektif Conan dan Obsesi Kekerasan: Ketika Fiksi Menjadi Nyata
Namun, ada elemen lain yang membuat kasus ini semakin mencengangkan: pengaruh media hiburan.
Penyelidikan mendalam menunjukkan bahwa Al kerap menonton serial animasi populer Detective Conan, khususnya Episode 271, yang ternyata memperlihatkan adegan kejahatan menggunakan pisau. Dalam episode tersebut, tokoh utama Conan dan teman-temannya—Ran dan Sonoko—sedang berjalan-jalan di taman kota ketika bertemu agen rahasia Jodie. Konflik muncul ketika Jodie mengawasi seorang pria yang dicurigai melakukan pelecehan terhadap perempuan.
Meski plot utama serial tersebut berfokus pada penyelesaian misteri, adegan kekerasan—termasuk penggunaan senjata tajam—ternyata meninggalkan kesan mendalam pada Al. Ia mulai mengidolakan cara tokoh fiksi “menghukum” pelaku kejahatan, tanpa memahami batas antara realitas dan imajinasi.
“Kami melihat ada obsesi terkait cara melakukan perbuatan tersebut, salah satunya setelah menonton anime yang memperlihatkan tindak pidana menggunakan pisau,” ungkap Kombes Calvijn.
Tak berhenti di situ, Al juga aktif bermain game online bertema misteri pembunuhan. Game semacam ini kerap memberi pemain peran sebagai detektif atau bahkan pelaku kejahatan, dengan narasi yang merancang aksi kekerasan sebagai bagian dari strategi atau hukuman. Bagi anak seusianya yang sedang dalam masa pembentukan moral, paparan konten seperti ini bisa sangat berbahaya.
Pengakuan Mengejutkan di Depan Psikolog
Dalam proses pemeriksaan lanjutan, Al memberikan pengakuan yang mengejutkan kepada tim psikolog yang ditunjuk oleh kepolisian. Ia mengatakan bahwa perbuatannya dilakukan dalam kondisi sadar penuh, bukan karena gangguan jiwa atau tekanan emosional sesaat.
“Dalam proses penyidikan disebutkan bahwa pelaku melakukan perbuatannya dengan sadar. Hal ini kemudian kami sinkronkan dengan hasil pemeriksaan psikolog,” jelas Calvijn.
Tim psikolog telah melakukan pendampingan intensif dan berulang, dan hasilnya menunjukkan bahwa keterangan Al konsisten. Ia memahami konsekuensi tindakannya, meski baru benar-benar merasakan penyesalan setelah melihat ibunya terbaring kritis.
“Pelaku menyampaikan penyesalan yang mendalam setelah melihat kondisi korban dan ambulans datang,” ungkap Calvijn. “Penyesalan itu muncul bukan karena ketakutan akan hukuman, melainkan karena menyadari betapa nyata akibat dari perbuatannya.”
Refleksi Sosial: Ketika Dunia Anak Tidak Lagi Aman
Kasus ini menjadi cerminan pahit tentang betapa rapuhnya perlindungan terhadap anak di tengah arus deras konten digital. Di satu sisi, anak-anak tumbuh dalam keluarga yang mungkin tanpa sadar menanamkan trauma melalui pola asuh yang kasar. Di sisi lain, mereka terpapar konten hiburan yang—meski dikemas sebagai hiburan—bisa menanamkan ideologi kekerasan sebagai solusi.