Siapa Anak dan Istri Sitok Srengenge? Sosok yang Viral Terjerat Kasus Dugaan Asusila Usai Foto Bareng Sal Priadi, Bukan Orang Sembarangan di Malang
tanda tanya-BlenderTimer BlenderTimer-
Siapa Anak dan Istri Sitok Srengenge? Sosok yang Viral Terjerat Kasus Dugaan Asusila Usai Foto Bareng Sal Priadi, Bukan Orang Sembarangan di Malang
Nama Sitok Srengenge, penyair ternama asal Indonesia, tiba-tiba kembali menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Bukan karena karya sastranya yang kerap dipuji penuh kedalaman filosofis, melainkan akibat munculnya foto barengnya dengan musisi Sal Priadi yang memicu gelombang ingatan kolektif publik terhadap kasus dugaan asusila yang pernah menyeretnya ke pusaran kontroversi lebih dari satu dekade lalu.
Foto tersebut, yang awalnya diunggah di media sosial tanpa konteks khusus, justru memantik reaksi keras dari sejumlah warganet. Salah satu komentar viral menyebut Sitok sebagai “pelaku rudapaksa”, sehingga kasus lama yang sempat menggemparkan dunia seni dan akademis Indonesia pada periode 2013–2014 pun kembali mencuat. Tagar terkait nama Sitok sempat trending di platform seperti Twitter dan TikTok, dengan berbagai narasi—mulai dari kecaman hingga upaya klarifikasi—beredar luas.
Kasus 2013: Ketika Dunia Sastra Diguncang Tuduhan Asusila
Pada tahun 2013, Sitok Srengenge dilaporkan atas dugaan tindakan asusila terhadap seorang mahasiswi Universitas Indonesia. Laporan tersebut mengklaim bahwa peristiwa terjadi dalam konteks pertemuan yang awalnya bersifat akademis atau artistik, namun berujung pada dugaan pelecehan seksual. Kasus ini dengan cepat menyebar di kalangan komunitas seni, kampus, hingga media nasional, memicu perdebatan sengit soal kekuasaan, etika seniman, dan perlindungan korban kekerasan seksual.
Pada 2014, pihak berwajib menetapkan Sitok sebagai tersangka. Namun, proses hukumnya berlangsung alot dan sarat kontroversi. Sampai saat ini, publik masih mempertanyakan status hukum pasti kasus tersebut—apakah berakhir dengan putusan pengadilan, mediasi, atau justru mangkrak karena berbagai faktor, termasuk tekanan sosial dan kurangnya saksi.
Yang menarik, isu ini kembali relevan di tengah gelombang gerakan #MeToo di Indonesia, di mana banyak korban kekerasan seksual—terutama dari kalangan seniman dan akademisi—mulai berani bersuara. Reaksi publik terhadap foto Sitok dan Sal Priadi seolah mencerminkan ketegangan antara apresiasi terhadap karya seni dan pertanggungjawaban moral atas perbuatan pribadi seorang seniman.
Profil Sitok Srengenge: Penyair, Aktor, dan Tokoh Budaya yang Penuh Paradoks
Lahir di Jakarta pada 22 Agustus 1965, Sitok Srengenge—nama aslinya Sitok Sunarto—adalah sosok multifaset: penyair, penulis naskah, aktor teater, hingga aktor film. Di usianya yang kini menginjak 60 tahun, ia dikenal luas sebagai salah satu penyair paling filosofis dan eksperimental dalam khazanah sastra Indonesia modern.
Kiprahnya di dunia seni dimulai sejak bergabung dengan Bengkel Teater yang dipimpin oleh legenda teater nasional, W.S. Rendra. Di bawah bimbingan Rendra, Sitok tidak hanya mengasah kemampuan aktingnya, tetapi juga mengembangkan kepekaan sosial dan estetika puitis yang kelak menjadi ciri khas karyanya.
Puncak pengakuan internasional datang ketika media ternama Asiaweek pada akhir 1990-an menobatkannya sebagai salah satu dari “70 Orang Luar Biasa di Asia” dalam kategori Masyarakat & Budaya, sebagai bagian dari seri Leaders for the Millennium. Penghargaan ini menegaskan posisinya sebagai pemikir dan seniman yang berpengaruh di kawasan Asia.
Karya-Karya yang Menggugah Kesadaran
Di balik kontroversi pribadinya, tak bisa dipungkiri bahwa kontribusi Sitok terhadap dunia sastra Indonesia sangat signifikan. Ia telah melahirkan sejumlah karya puisi yang menjadi rujukan penting, di antaranya:
Persetubuhan Liar (1992): kumpulan puisi yang menggabungkan erotika, spiritualitas, dan kritik sosial.
Trilogi Tripitakata: eksplorasi linguistik dan mitologis yang menantang struktur bahasa konvensional.
On Nothing: refleksi eksistensial tentang kehampaan, keberadaan, dan kemanusiaan.
Selain puisi, Sitok juga dikenal sebagai penulis naskah teater dan film. Ia pernah memerankan tokoh Sri Sultan Hamengku Buwono VII dalam film biopik religius Sang Pencerah (2010), yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Perannya, meski tidak utama, menunjukkan kemampuannya menembus batas disiplin seni—dari sastra ke layar lebar.
Dilema Publik: Mengapresiasi Karya atau Menghukum Perilaku?
Kembalinya nama Sitok ke permukaan mencerminkan dilema etis yang kerap dihadapi masyarakat modern: bagaimana menyikapi karya seni dari seseorang yang dituduh melakukan kejahatan moral? Apakah karya dan penciptanya bisa dipisahkan?