Heboh Kasus Anak Bunuh Ibu di Medan, Game Roblox Murder Mystery 2 Jadi Sorotan: Fakta atau Prasangka?
game-quakeboy-
Heboh Kasus Anak Bunuh Ibu di Medan, Game Roblox Murder Mystery 2 Jadi Sorotan: Fakta atau Prasangka?
Nama Murder Mystery 2 (MM2), sebuah game populer di platform Roblox, tiba-tiba menjadi pusat perhatian nasional setelah dikaitkan dengan kasus keji seorang anak berusia 12 tahun yang diduga membunuh ibu kandungnya di Kota Medan. Isu ini memicu kekhawatiran luas di kalangan orang tua, terutama mereka yang memiliki anak-anak aktif dalam dunia gaming daring. Namun, di balik sorotan media sosial yang viral, sejauh mana hubungan nyata antara game tersebut dan tindakan kekerasan yang terjadi?
Kasus di Medan yang Memicu Kontroversi
Pada akhir Desember 2025, publik dikejutkan oleh pengakuan polisi terkait motif seorang bocah berinisial AI (12), murid kelas VI SD, yang tega menghabisi nyawa ibunya, F (42). Dalam konferensi pers yang digelar pada Senin, 29 Desember 2025, Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, menyebut bahwa AI diduga terinspirasi oleh konten hiburan digital—baik dari game Murder Mystery 2 maupun serial anime.
“Bagaimana obsesi si korban dalam hal melakukan tindak pidananya? Adik (AI) melihat game Murder Mystery pada season Kills Others menggunakan pisau. Makanya, korban pada saat itu menggunakan pisau dalam melakukan tindak pidananya,” ungkap Kombes Jean, dilansir detikSumut.
Lebih lanjut, polisi menjelaskan bahwa AI juga kerap menonton adegan pembunuhan dalam serial anime DC yang menampilkan aksi kekerasan menggunakan senjata tajam. Pernyataan ini langsung memicu gelombang diskusi di media sosial, dengan banyak netizen menyalahkan game Roblox sebagai “pemicu utama” perilaku kriminal anak.
Apa Itu Murder Mystery 2 di Roblox?
Murder Mystery 2 adalah salah satu game paling populer di platform Roblox, yang dikembangkan oleh studio Nikilis. Dirilis sejak beberapa tahun lalu, game ini mengusung genre social deduction—mirip dengan permainan Among Us atau Mafia—dan telah diunduh jutaan kali oleh pengguna di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Dalam MM2, setiap ronde permainan melibatkan 10 hingga 15 pemain yang secara acak dibagi ke dalam tiga peran utama:
Innocent (Orang Tak Bersalah): Pemain ini tidak memiliki senjata dan harus bertahan hidup sambil mengamati perilaku pemain lain untuk mengidentifikasi si pembunuh.
Sheriff (Sherif): Satu-satunya pemain yang dibekali pistol. Tugasnya adalah menembak si pembunuh dengan tepat. Namun, jika salah tembak, Sheriff akan kehilangan senjatanya dan bisa kalah.
Murderer (Pembunuh): Bertugas membunuh semua pemain tak bersalah secara diam-diam menggunakan pisau, tanpa tertangkap atau tertembak.
Tujuan akhir dari permainan adalah sederhana: Pembunuh menang jika berhasil menghabisi semua pemain, sementara Innocent dan Sheriff menang jika berhasil menghentikan si pembunuh sebelum terlambat.
Apakah MM2 Benar-Benar Mendorong Kekerasan?
Isu bahwa Murder Mystery 2 mendorong perilaku kekerasan bukanlah yang pertama kali muncul. Sejak lama, game bertema kriminal atau detektif sering menjadi sasaran kritik ketika muncul kasus kekerasan yang melibatkan anak-anak. Namun, banyak pakar kebijakan digital dan psikolog anak menilai bahwa korelasi langsung antara konten game dan tindakan kriminal adalah klaim yang terlalu simplistis.
Menurut Dr. Lina Wijaya, psikolog anak dan pengamat literasi digital dari Universitas Indonesia, “Game seperti MM2 berada dalam ranah fiksi dan simulasi. Anak-anak seharusnya mampu membedakan antara dunia virtual dan realitas—asalkan mereka mendapat pendampingan yang memadai dari orang tua dan lingkungan.”
Ia menegaskan bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan oleh anak biasanya merupakan hasil dari kombinasi kompleks: mulai dari tekanan psikologis, kekerasan domestik yang tak terlihat, hingga kurangnya pengawasan sosial—bukan semata-mata karena meniru adegan dalam game.
Respons Komunitas Gamer dan Pengembang
Komunitas gamer Indonesia, terutama yang aktif di platform Roblox, menyatakan kekecewaan terhadap stigma negatif yang dilekatkan pada MM2. Banyak dari mereka menekankan bahwa game ini justru melatih kemampuan berpikir logis, observasi, dan kerja sama tim.
“Ini bukan game first-person shooter atau battle royale. Di MM2, kamu harus membaca gerak-gerik lawan, menganalisis situasi, dan mengambil keputusan cepat. Ini latihan mental, bukan dorongan kekerasan,” ujar Raka, seorang konten kreator Roblox berusia 16 tahun dari Bandung.
Sementara itu, pihak pengembang Nikilis belum memberikan pernyataan resmi terkait kasus di Medan. Namun, dalam kebijakan konten Roblox, MM2 diklasifikasikan sebagai game untuk usia 9+ dengan peringatan bahwa permainan mengandung unsur kekerasan kartun—bukan kekerasan realistis.