Prediksi Tren HP 2026: Harga Naik, RAM Kecil Kembali Populer, dan Revolusi Ponsel Lipat?

Prediksi Tren HP 2026: Harga Naik, RAM Kecil Kembali Populer, dan Revolusi Ponsel Lipat?

hp-markusspiske-

Prediksi Tren HP 2026: Harga Naik, RAM Kecil Kembali Populer, dan Revolusi Ponsel Lipat?
Di ambang pergantian tahun menuju 2026, dunia teknologi seluler sedang berada di titik balik yang menarik. Ponsel pintar—yang kini bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan pusat kehidupan digital—diprediksi akan mengalami transformasi besar dalam hal desain, fitur, harga, hingga komponen inti. Namun, di tengah inovasi yang menggiurkan, konsumen juga perlu siap menghadapi kenyataan pahit: harga smartphone global kemungkinan besar akan naik signifikan.

Laporan terbaru dari berbagai lembaga riset teknologi, termasuk Counterpoint Research dan IDC, mengungkap lima tren utama yang akan mendominasi pasar ponsel pintar pada tahun 2026. Mulai dari kembalinya slot microSD, hingga debut iPhone lipat perdana yang diprediksi mengguncang industri, semua menunjukkan bahwa 2026 bukan hanya tahun evolusi—tapi juga tahun tantangan bagi produsen dan konsumen.



1. Harga HP Diprediksi Naik Drastis: Efek Domino Krisis Komponen Global
Salah satu prediksi paling mengkhawatirkan bagi konsumen adalah kenaikan harga smartphone secara global. Menurut Counterpoint Research dalam laporan berjudul Memory Solutions for GenAI, biaya komponen inti ponsel—terutama RAM dan DRAM—diperkirakan melonjak hingga 40% pada kuartal kedua 2026. Kenaikan ini tidak main-main: biaya produksi (Bill of Materials/BoM) diproyeksikan naik antara 8% hingga lebih dari 15% dibandingkan level saat ini.

Dampaknya langsung terasa pada harga jual. Data Counterpoint menunjukkan bahwa harga rata-rata smartphone global akan naik 6,9% pada 2026, jauh melampaui proyeksi awal sebesar 3,9% yang dirilis pada September 2025. Kenaikan ini bukan tanpa alasan. Permintaan memori tinggi dari sektor kecerdasan buatan (AI) dan pusat data telah menguras pasokan chip, membuat produsen ponsel harus bersaing ketat hanya untuk mendapatkan komponen dasar.

Akibatnya, pengiriman smartphone global diprediksi turun 2,1% pada 2026. Di tengah tekanan inflasi dan daya beli yang menurun, kenaikan harga ini berpotensi membuat banyak konsumen menunda pembelian atau beralih ke model lama dengan spesifikasi lebih rendah.


2. RAM 4GB Kembali Jadi Standar di Ponsel Murah
Ironisnya, di tengah era AI yang menuntut performa tinggi, RAM 4GB justru akan kembali menjadi standar—setidaknya untuk ponsel kelas menengah ke bawah. Dilansir dari Gizmochina, langkah ini diambil sebagai strategi penekanan biaya oleh produsen, mengingat harga RAM global terus meroket.

Pada 2025, mayoritas ponsel baru sudah dilengkapi RAM 8GB hingga 16GB, bahkan di segmen menengah. Namun, tren tersebut diperkirakan berbalik arah pada 2026. Produsen akan lebih selektif dalam menyeimbangkan performa dan harga, sehingga ponsel entry-level dan menengah akan kembali mengandalkan RAM 4GB sebagai baseline.

Tentu, kapasitas RAM tinggi tidak akan menghilang sepenuhnya. Ponsel flagship dan seri premium tetap akan mempertahankan RAM 8GB hingga 16GB, terutama untuk mendukung multitasking, gaming, dan aplikasi berbasis AI. Namun, bagi konsumen yang mengandalkan ponsel hanya untuk media sosial, pesan instan, dan streaming ringan, RAM 4GB masih cukup—meski dengan kompromi pada masa pakai perangkat jangka panjang.

3. Baterai Jumbo: Teknologi Silicon Carbon Jadi Game Changer
Salah satu tren paling menyenangkan di tengah kenaikan harga adalah kehadiran baterai berkapasitas ekstra besar. Pada 2026, ponsel dengan baterai hingga 8.300 mAh diprediksi akan meluncur, menjanjikan daya tahan hingga dua hari dalam penggunaan normal.

Pendorong utamanya adalah teknologi baterai silicon carbon, yang sebelumnya hanya digunakan oleh merek-merek asal Tiongkok seperti Realme, Tecno, dan Infinix. Namun, pada 2026, raksasa global seperti Samsung dan Apple diprediksi mulai mengadopsi teknologi ini, berkat peningkatan efisiensi dan densitas energi yang jauh lebih baik dibanding baterai lithium-ion konvensional.

Bagi pengguna yang lelah dengan isi ulang harian, tren ini adalah angin segar. Baterai besar juga menjadi fondasi penting untuk mendukung fitur-fitur baru seperti layar resolusi tinggi, kamera multi-lensa, dan chip AI onboard yang semuanya mengonsumsi daya lebih besar.

4. Persaingan Ponsel Lipat Memasuki Fase Baru
Kalau 2023–2025 adalah era eksperimen, maka 2026 akan menjadi tahun ekspansi besar-besaran untuk ponsel lipat. Menurut IDC, pasar ponsel lipat diproyeksikan tumbuh 30% year-over-year (YoY)—lonjakan dramatis dari prediksi awal yang hanya 6%.

Pemicu utamanya? Debut iPhone lipat pertama dari Apple, yang diperkirakan meluncur pada akhir 2026. Menurut Nabila Popal, Direktur Riset Senior di IDC, kehadiran Apple akan menjadi katalis utama yang mempercepat adopsi konsumen secara massal.

IDC memperkirakan iPhone lipat akan langsung menguasai 22% volume penjualan dan 34% nilai pasar di segmen ponsel lipat pada tahun pertamanya. Angka ini menunjukkan bahwa Apple tidak hanya mengikuti tren, tapi berpotensi mendefinisikan ulang standar industri.

Baca juga: Jadwal Program Televisi Sabtu, 3 Januari 2026 ada Journey to the Center of the Earth dan The Darkest Hour di ANTV, GTV, Indosiar, MDTV, Metro TV, MNCTV, RCTI, SCTV, Trans 7, Trans TV dan TVONE

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya