PT Agincourt Resources Disorot, Perusahaan Tambang Emas Ini Dituding Jadi Biang Kerok Deforestasi dan Banjir Bandang di Sumatera

PT Agincourt Resources Disorot, Perusahaan Tambang Emas Ini Dituding Jadi Biang Kerok Deforestasi dan Banjir Bandang di Sumatera

Banjir-Instagram-

PT Agincourt Resources Disorot, Perusahaan Tambang Emas Ini Dituding Jadi Biang Kerok Deforestasi dan Banjir Bandang di Sumatera
Nama PT Agincourt Resources kembali mencuat di tengah publik setelah dihubungkan dengan bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera. Tuduhan ini datang dari organisasi lingkungan ternama, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), yang menyebut perusahaan tambang tersebut sebagai salah satu penyebab utama deforestasi yang berujung pada bencana ekologis tersebut. Lantas, siapa sebenarnya PT Agincourt Resources? Dan bagaimana peran perusahaan ini dalam konteks lingkungan dan ekonomi di Sumatera Utara?

Tuduhan WALHI: Dari Deforestasi hingga Banjir Bandang
Pada 27 November 2025, akun Twitter @elisa_jkt mengunggah sebuah cuitan yang mengutip pernyataan WALHI terkait keterlibatan PT Agincourt Resources dalam kerusakan hutan dan bencana banjir bandang. “WALHI menuduh PT Agincourt Resources sebagai penyebab deforestasi yang akhirnya menyebabkan banjir bandang Sumatera. Anak perusahaan ASTRA dan ini websitenya,” tulis akun tersebut.



Tuduhan ini langsung memicu gelombang diskusi di media sosial dan menimbulkan kekhawatiran publik terhadap praktik pertambangan yang berpotensi merusak ekosistem hutan tropis Sumatera—salah satu kawasan biodiversitas terpenting di dunia. Namun, benarkah deforestasi yang terjadi memang akibat langsung dari operasional tambang emas Martabe milik PT Agincourt Resources?

Profil Perusahaan: Tambang Emas Martabe di Jantung Sumatera Utara
PT Agincourt Resources (PTAR) adalah perusahaan pertambangan yang fokus pada eksplorasi, penambangan, dan pemrosesan emas serta perak di Tambang Martabe, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Perusahaan ini merupakan bagian dari grup Astra melalui kepemilikan saham mayoritas oleh PT Danusa Tambang Nusantara (95%), sementara 5% sisanya dimiliki oleh PT Artha Nugraha Agung.

Sejak mulai beroperasi secara komersial pada 24 Juli 2012, Tambang Martabe telah menjadi salah satu pemasok emas terkemuka di Indonesia. Hingga Desember 2024, luas area tambang mencapai 646,08 hektare, dengan total produksi lebih dari 200.000 ounce emas dan 1–2 juta ounce perak dari pemrosesan sekitar 6 juta ton bijih.


Perusahaan ini juga menyatakan bahwa 99% dari sekitar 3.000 karyawannya adalah warga negara Indonesia, dengan lebih dari 70% direkrut dari masyarakat lokal—sebuah langkah yang diklaim sebagai bentuk komitmen terhadap pemberdayaan ekonomi daerah.

Sejarah Panjang: Dari Normandy Mining hingga Kepemilikan Astra
Jejak operasional PT Agincourt Resources di Sumatera Utara sebenarnya sudah dimulai sejak 1997, ketika Kontrak Karya (KK) diberikan kepada PT Danau Toba Mining—perusahaan yang saat itu mayoritas dimiliki oleh perusahaan asal Australia, Normandy Mining. Sejak awal, wilayah konsesi mencakup lebih dari 6.560 km², meliputi empat kabupaten: Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Mandailing Natal.

Perjalanan perusahaan ini penuh transformasi:

2001: Berubah nama menjadi PT Horas Nauli
2003: Diakuisisi Newmont dan berganti nama menjadi PT Newmont Horas Nauli
2006: Berganti lagi menjadi PT Agincourt Resources
2007: Proyek Martabe diambil alih oleh Oxiana Limited
2009: Dilakukan 25 studi lingkungan komprehensif, termasuk AMDAL, sebelum akhirnya disetujui oleh pemerintah
2012: Penuangan emas pertama dilakukan, menandai dimulainya operasi komersial
Pada 2018, PT Agincourt Resources mencatat rekor produksi tertinggi dengan 5,57 juta ton bijih yang diproses, menghasilkan 410.387 ounce emas—peningkatan 15% dari tahun sebelumnya. Tahun itu juga menjadi titik balik ketika kepemilikan mayoritas diambil alih oleh konsorsium yang kini berada di bawah naungan Astra melalui PT Danusa Tambang Nusantara.

Komiten Lingkungan dan Capaian Sertifikasi Internasional
Menjawab kritik terhadap dampak lingkungan, PT Agincourt Resources menegaskan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan. Melalui program Martabe Improvement Program (MIP) yang diluncurkan pada 2021, perusahaan berupaya meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mengurangi jejak ekologis.

Langkah tersebut membuahkan hasil. Pada 2023, PTAR berhasil meraih dua sertifikasi internasional:

ISO 14001:2015 (Manajemen Lingkungan)
ISO 45001:2018 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)
Kedua sertifikasi tersebut dikeluarkan oleh United Kingdom Accreditation Service (UKAS), lembaga akreditasi terkemuka dunia. Pencapaian ini, menurut manajemen perusahaan, membuktikan bahwa operasionalnya memenuhi standar global dalam pengelolaan lingkungan dan keselamatan kerja.

Tantangan dan Pertanyaan Publik: Apakah Tambang Martabe Benar-Benar Aman?
Meski menunjukkan catatan lingkungan yang relatif baik, PT Agincourt Resources tetap berada dalam sorotan. WALHI dan sejumlah LSM lingkungan lainnya mempertanyakan skala deforestasi di sekitar kawasan tambang, terutama dalam konteks perubahan iklim dan kerentanan terhadap bencana hidrometeorologis seperti banjir bandang.

Menurut data citra satelit terbaru, kawasan hutan di Tapanuli Selatan memang mengalami penurunan tutupan vegetasi dalam satu dekade terakhir. Namun, korelasi langsung antara aktivitas tambang dan banjir bandang masih memerlukan kajian ilmiah mendalam—karena faktor seperti curah hujan ekstrem, alih fungsi lahan pertanian, dan pembangunan infrastruktur juga berkontribusi signifikan.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya