Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, angkat bicara terkait polemik pengangkatan sejumlah komisaris BUMN yang belakangan menjadi sorotan publik.

Menurut Qodari, penunjukan komisaris dengan latar belakang beragam justru dapat membawa perspektif baru yang positif dalam mengawal agenda pemerintah di korporasi negara.

>>> Pertamina Beri Bantuan Pendidikan untuk Anak-Anak Banyuwangi

Isu ini mencuat setelah pengangkatan Mufi Budi Ananda, asisten pribadi artis Raffi Ahmad, sebagai Komisaris PT Krakatau Posco.

Selain itu, publik juga menyoroti penunjukan Ginka Febriyanti Ginting, mantan relawan Prabowo-Gibran yang berusia 28 tahun, sebagai Komisaris PT Pertamina Retail.

Qodari menilai pemilihan komisaris dari luar perusahaan merupakan praktik normal, tidak hanya di BUMN tetapi juga di perusahaan swasta untuk memperkuat fungsi pengawasan.

"Dan kalau bicara pengalaman saya di Pertamina Hulu Energi, kita bisa membantu juga untuk melihat alternatif-alternatif solusi.

Karena kita datang dari latar belakang yang berbeda, kita datang dari luar, sebetulnya ada perspektif yang baru yang bisa dibawa ke dalam perusahaan di mana kita menjadi komisaris," ujar Qodari di Jakarta, Sabtu.

Ia menambahkan bahwa modal utama menjadi komisaris efektif terletak pada integritas dan nalar logis.

"Kalau hemat saya, kalau namanya komisaris itu sebetulnya modal dasarnya dua. Pertama, akal sehat, yang kedua, niat baik," tuturnya.

>>> Infografis: Model Alis yang Cocok Sesuai Bentuk Wajah, Jangan Asal Pilih!

Lebih lanjut, Qodari menjelaskan bahwa figur yang dipilih sebagai komisaris biasanya telah memiliki pengalaman di organisasi, pemerintahan, atau sektor swasta.

Pengalaman eksternal tersebut dinilai berharga untuk memperkaya gagasan dan mengawasi operasional perusahaan negara agar tetap di jalur yang benar.