Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menyoroti perubahan sikap akademisi ketika mereka masuk ke dalam birokrasi.

Menurutnya, banyak akademisi yang justru meninggalkan sikap kritis demi menyesuaikan diri dengan kepentingan atasan.

>>> Ronaldo Bantah Klaim Kakaknya soal Pensiun Usai Piala Dunia 2026

"Tidak berani ngomong 'qulil haqqo walau kana murran' [Katakanlah kebenaran, meskipun itu pahit], tidak berani bilang, 'Pak, jangan begini.

Kalau begini, gagal.' Begitu jadi birokrat malah ABS--asal bapak senang.

Itu tidak bisa," kata Cak Imin dalam keterangannya, Jumat (3/7).

Cak Imin mencontohkan ada guru besar yang sangat taat pada ilmu saat mengajar di kampus, tetapi begitu menjadi birokrat ia seakan lupa akan hal itu.

Padahal, seorang birokrat harus memegang prinsip menyampaikan kebenaran meskipun pahit.

Peran Perguruan Tinggi

Cak Imin meminta perguruan tinggi mengambil peran sebagai pengawal intelektual terhadap kebijakan publik.

>>> DPR Dorong Dialog untuk Selesaikan Sengketa Laut China Selatan

Ia menyatakan kampus jangan hanya menghasilkan riset dan inovasi, tetapi juga harus memastikan setiap kebijakan dijalankan sesuai kaidah akademik.

"Mengawal pertanggungjawaban intelektualnya, mengawal pertanggungjawaban ilmu pengetahuannya sehingga politik anggarannya benar," ujar dia yang juga Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.

Selain itu, Cak Imin mengingatkan bahaya budaya 'Asal Bapak Senang' (ABS) di kalangan birokrat.

Ia menyatakan budaya ABS itu menghambat lahirnya kebijakan yang berkualitas.

Cak Imin mengatakan seorang pemimpin justru membutuhkan masukan yang jujur dan berbasis fakta.

>>> Mohamed Salah Starter di Laga Australia vs Mesir Piala Dunia 2026

"Harus menyampaikan apa adanya. Pimpinan justru lebih senang kalau diingatkan apa adanya," ucap dia.