Lagu berbahasa Sunda berjudul 'Lalaki Langit, Lalanang Bejad' yang diciptakan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Lirik lagu tersebut dinilai mengandung stereotip dan merendahkan martabat perempuan. Anggota DPR RI Atalia Praratya termasuk yang menyuarakan kritik keras.

>>> 8 Tersangka Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi, dari Roy Suryo hingga dr Tifa

Om Zein telah meminta maaf dan mengklarifikasi bahwa lagu itu merupakan refleksi pribadi dari masa lalunya, bukan dimaksudkan untuk merendahkan perempuan.

Arti Lirik Lagu Lalaki Langit

Secara harfiah, 'Lalaki Langit' berarti 'laki-laki langit', sedangkan 'Lalanang Bejad' bermakna 'laki-laki bejat' atau berperilaku buruk.

Lagu ini diawali dengan ungkapan syukur karena penulis dilahirkan sebagai laki-laki: 'Nuhun Gusti, tos nyiptakeun kuring jadi lalaki' (Terima kasih Tuhan, sudah menciptakan aku menjadi laki-laki).

>>> Link Resmi Recruitment Magang Pertamina 2026, Ada 400 Lowongan

Bait pertama berisi pengandaian jika penulis terlahir sebagai perempuan: 'Cacak mun jadi awewe, SMP kelas tilu, tos karuron tujuh kali' (Andai saja jadi perempuan, SMP kelas tiga, sudah keguguran tujuh kali).

Lirik ini menggambarkan situasi ekstrem kehamilan di usia sekolah hingga keguguran berulang. Banyak pihak menilai penggambaran tersebut menyudutkan perempuan.

Bagian lain berbunyi: 'Teu kudu meuli kutang, nu busana leuwih gede batan susu' (Tidak perlu membeli bra yang busanya lebih besar daripada payudara), yang menyindir penggunaan push-up bra.

>>> Bedah Data: Intip Kontrasnya Karakter Peminat Toyota Avanza vs Mitsubishi Xpander

Kritik muncul karena lirik tersebut dianggap menjadikan tubuh perempuan sebagai bahan candaan. Ada pula lirik 'Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek alatan telat bulan' yang merujuk pada keterlambatan menstruasi.