Skema sewa baterai menjadi salah satu opsi yang ditawarkan pada sepeda motor listrik untuk memangkas nominal pembelian awal.

Melalui sistem ini, pembeli tidak memperoleh hak milik baterai secara langsung, melainkan hanya membayar tarif pemakaian komponen tersebut sesuai regulasi penyedia layanan.

>>> IPO SpaceX Cetak Rekor Global, Namun Masih Kalah dari Pasar China

Saat transaksi di diler selesai, konsumen pada dasarnya hanya membawa pulang unit kendaraan tanpa komponen sumber tenaga utama.

Hak kepemilikan komponen baterai, modul IoT di dalamnya, hingga alat pengisi daya resmi di rumah tetap dipegang oleh perusahaan penyedia.

Hendro Sutono, juru bicara KOSMIK, menjelaskan bahwa pengguna hanya membayar biaya langganan bulanan atau kuota energi dengan sistem mirip pascabayar.

"Melalui skema sewa ini, konsumen memang diuntungkan karena dibebaskan dari kecemasan akan penurunan performa baterai seiring berjalannya waktu," kata Hendro kepada Kompas.

com, Kamis (11/6/2026).

"Jika kapasitas penyimpanan daya menurun di bawah standar operasional, perusahaan wajib menggantinya tanpa biaya tambahan," ujarnya.

Akan tetapi, regulasi penggantian tanpa biaya tersebut hanya berlaku selama pengendara aktif dalam sistem sewa yang disediakan produsen.

Mekanisme hukum dan operasional kendaraan akan mengalami perubahan signifikan apabila pengguna memilih menyudahi kontrak langganan baterai.

Menurut keterangan Hendro, seluruh paket pendukung yang mencakup baterai fisik, modul IoT, dan alat pengisi daya wajib dikembalikan ke perusahaan karena bukan hak milik konsumen.

Kondisi tersebut membuat pengguna hanya memiliki rangka serta mesin motor listrik yang tidak lagi mempunyai sumber daya utama.

"Di sinilah tantangan finansial sesungguhnya dimulai bagi konsumen yang ingin mandiri," kata Hendro.

Pemilik kendaraan bakal dihadapkan pada beberapa opsi pasca-langganan untuk membuat motor listrik tersebut kembali beroperasi.