Merawat Budaya Lewat Kopi, Cublak Suweng Hadir dengan Cerita dan Filosofi Nusantara
Indonesia dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbesar di dunia dengan kekayaan rasa dari berbagai daerah.
Biji kopi dari Aceh, Jawa, Flores, hingga Toraja memiliki karakter unik karena dipengaruhi ketinggian, tanah, iklim, dan curah hujan.
>>> Badai Dahsyat dan Banjir Landa Eropa dan Bangladesh
Keragaman itu menginspirasi Roemah Koffie meluncurkan Cublak Suweng, racikan premium yang memadukan kopi Gayo, Aceh dengan Temanggung, Jawa Tengah.
Perpaduan ini menghasilkan profil rasa seimbang dengan sentuhan fruity, karamel, hazelnut, cokelat, keasaman rendah, dan body padat.
CEO Roemah Koffie, Felix TJ, mengatakan setiap daerah penghasil kopi memiliki identitas rasa yang tidak bisa disamakan.
"Setiap origin di kopi menciptakan rasa berbeda karena topografi, tanah, dan datarannya. Arabika yang ditanam di daerah berbeda menghasilkan karakter berbeda.
Kami ingin menghadirkan rasa yang balance dan harmonis dari dua origin," ujarnya dalam acara Press Conference Cublak Suweng di PIK 2, Kamis (16/07).
Filosofi Cublak Suweng
Nama Cublak Suweng diambil dari lagu dan permainan tradisional Jawa yang menyimpan filosofi mendalam. Felix mengaku baru memahami maknanya setelah mempelajari kembali warisan budaya tersebut.
"Dulu saya pikir Cublak Suweng hanya lagu anak-anak ceria. Ternyata maknanya sangat dalam.
>>> Gianni Infantino Kantongi Dukungan Lebih dari 200 Negara untuk Pemilihan Kembali FIFA
Harta karun paling berharga ditemukan ketika kita mau berhenti sejenak dan tenang," tuturnya.
Kehidupan modern sering membuat orang terus berlari mengejar target hingga lupa memberi ruang untuk refleksi. "Kadang kita terlalu terburu-buru mengejar banyak hal.
Padahal jawabannya sudah ada ketika kita mau pause dan menenangkan diri," katanya.
Pemikiran itu diterjemahkan ke dalam filosofi tiga lingkaran: Inner Circle (hubungan dengan diri sendiri), Shared Circle (hubungan dengan sesama), dan Eternal Circle (hubungan dengan alam).
Ketiga unsur ini penting untuk menciptakan keseimbangan, seperti perpaduan dua karakter kopi yang saling melengkapi.
Nilai budaya juga terlihat pada kemasan yang mengangkat kisah kura-kura dan kancil.
Cerita rakyat itu mengingatkan pada falsafah Jawa "alon-alon asal kelakon", bahwa ketekunan dan kesabaran sering membawa hasil lebih baik daripada tergesa-gesa.
>>> KAI Perkuat Layanan Inklusif dan Fasilitas Ramah Disabilitas
Roemah Koffie juga menghadirkan pengalaman Tasting & Sensory Experience yang memperkenalkan karakter rasa Cublak Suweng melalui penyajian Kopi Walik.
Update Terbaru
Sensasi uji aroma langsung ubah cara konsumen belanja parfum
Selasa / 28-07-2026, 00:00 WIB
Kebijakan Baru Insentif EV Bidik Mobil dan Motor Listrik Lokal
Selasa / 28-07-2026, 00:00 WIB
Garuda Muda Gilas Kamboja 5-1 Lewat Aksi Cemerlang Mitchell Baker
Selasa / 28-07-2026, 00:00 WIB
Spesimen Ijazah Jokowi Berbeda dari Lulusan UGM 1985 Menurut dr. Tifa
Senin / 27-07-2026, 23:56 WIB
Bocoran Harga Global Redmi Note 17 Series Sebelum Peluncuran Resmi
Senin / 27-07-2026, 23:56 WIB
Penampilan Berwibawa Demi Moore dalam MV Animal Milik KATSEYE
Senin / 27-07-2026, 23:56 WIB
Mengenal Airbus Beluga XL, Pesawat Kargo Unik Penopang Masa Depan Industri
Senin / 27-07-2026, 23:56 WIB
Chrome ARM64 untuk Linux Dirilis Google Tanpa Pengumuman Resmi
Senin / 27-07-2026, 23:49 WIB
Aturan Sumbangan HUT RI di Surabaya Harus Sukarela Tanpa Paksaan
Senin / 27-07-2026, 23:49 WIB
Sean Diddy Combs Menjalani Hukuman Isolasi Usai Terlibat Perkelahian Penjara
Senin / 27-07-2026, 23:43 WIB
Pilihan perangkat elektronik paling diminati pembeli di Amazon
Senin / 27-07-2026, 23:43 WIB
Kasus Eric Adjepong: Pelanggaran Perintah Perlindungan Mantan Istri
Senin / 27-07-2026, 23:42 WIB
Aksi N3on dan Ryan Garcia Gelar Cuci Mobil Amal Bantu Korban ICE
Senin / 27-07-2026, 23:35 WIB
Persija Tumbang di Laga Perdana, Shin Tae-yong Ungkap Kendala Tim
Senin / 27-07-2026, 23:35 WIB







