Setelah kekalahan, pelatih Toiran menjadi sosok kunci yang membangkitkan kepercayaan diri pemain. "Dia percaya sama tim kita, dia usaha bangkitkan kepercayaan diri anak-anak," ungkap Boy.

Toiran memberikan kebebasan berekspresi di lapangan tanpa tekanan. Hasilnya, Indonesia berhasil mendapatkan momentum saat melawan Qatar dan bermain lepas.

Boy menambahkan bahwa transisi pelatih dari Sergio Veloso ke Toiran tidak banyak mengubah persiapan tim. "Komunikasi lebih nyambung karena Coach Toiran lebih fasih Bahasa Indonesia," jelasnya.

Ia menilai chemistry tim tetap terjaga dan hanya program latihan yang sedikit berbeda.

Di final, set pertama berlangsung sangat ketat hingga berakhir 34-32. Setelah memenangkan set tersebut, kepercayaan diri tim langsung meningkat.

Boy menekankan pentingnya saling percaya antar pemain. "Ketika kita saling percaya, alhamdulillah dapat momentum-momentumnya," katanya.

Strategi servis keras menjadi kunci kemenangan atas Korea. Menurut Boy, servis kencang sudah dilatih sejak training camp, tetapi kepercayaan diri menjadi faktor penentu.

>>> AS Teken Perjanjian Bangun Kedutaan Baru untuk Israel di Yerusalem

Perubahan starting lineup dengan memasukkan Rama Fazza dan Putra Hidayatullah juga dianggap efektif. "Rama main cepat, itu bagus untuk mengacak-acak pertahanan lawan," ujar Boy.

Boy mengaku belum pernah mengukur tinggi vertical jump-nya. Namun, ia menduga postur tubuh yang ringan membantunya melompat lebih tinggi.

Ia menegaskan porsi latihannya sama dengan pemain lain, hanya saja faktor fisik yang membuatnya berbeda.

Setelah menjadi juara Asia, agenda berikutnya adalah SEA V. League dan Asian Games.

Boy belum memiliki target pribadi, tetapi ia ingin bermain baik di setiap pertandingan.

Ia menyerahkan target kepada pelatih dan federasi untuk dikombinasikan nanti.