Kopi memiliki beragam sebutan di dunia, mulai dari espresso hingga cappuccino. Namun, ada pula istilah yang merujuk langsung pada asal-usul geografisnya, seperti "Java".

Penggunaan nama Java sebagai sinonim kopi bermula di Eropa pada abad ke-18. Komoditas kopi dari Pulau Jawa sangat populer dan melekat kuat di kalangan penikmatnya.

>>> Persib Bandung Incar Enriko Papa dan Tomasso Cassandro untuk Musim Depan

Keberhasilan ini tidak lepas dari peran VOC yang mengekspor kopi Jawa ke berbagai belahan dunia.

Pulau Jawa menjadi salah satu wilayah pertama di luar Afrika dan Arab yang membudidayakan tanaman ini.

Memasuki tahun 1720-an, kualitas kopi Jawa telah diakui secara internasional. Harganya bahkan bisa mencapai 10 hingga 15 kali lipat dibandingkan kopi biasa.

Awal Mula Penyelundupan dan Budidaya di Batavia

Sejarah perkebunan kopi di Jawa berawal pada tahun 1650.

Pieter van den Broecke, seorang pedagang Belanda yang bekerja untuk VOC, mengunjungi Kota Mocha di Yaman dan mencicipi minuman yang digambarkannya sebagai "panas dan hitam".

Ia membawa pulang biji kopi ke Amsterdam secara ilegal. Namun, budidaya di Belanda gagal karena iklim yang tidak mendukung.

>>> Menteri ESDM Panggil PLN Bahas Pemadaman Listrik di Jawa

Belanda kemudian mengirim tanaman tersebut ke Ceylon (Sri Lanka) pada tahun 1658.

Setelah terlibat perdagangan di sana, mereka meninggalkan perkebunan Sri Lanka untuk menghindari penurunan harga akibat pasokan berlebih.

Fokus budidaya dialihkan ke Pulau Jawa. Penanaman pertama dilakukan di Batavia, namun sempat gagal akibat banjir.

Pemerintah kolonial Belanda mencoba kembali beberapa tahun kemudian. Pada upaya kedua, kopi berhasil tumbuh subur di tanah Nusantara.

Perkebunan di Jawa berkembang pesat pada awal 1700-an.

Tanah vulkanik yang subur dan iklim tropis menjadikan pulau ini lokasi budidaya yang ideal, sehingga produknya dikenal di seluruh dunia.

>>> BEI Pantau Saham Solusi Environment Asia Akibat Transaksi Tidak Wajar

Istilah Java melekat sebagai kata lain kopi di Eropa sejak tahun 1700-an akibat popularitas komoditas perkebunan dari Pulau Jawa.