Aliansi Guru Besar Kecam Dugaan Aksi Represif ke Massa Aksi Surabaya
Puluhan guru besar, aktivis, dan intelektual lintas disiplin dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga di Indonesia menyatakan dukungan penuh kepada gerakan mahasiswa yang belakangan ini menghadapi tekanan dan tindakan represif aparat.
Pernyataan dari 64 tokoh itu dirilis Sabtu (27/6), menyusul serangkaian insiden kekerasan terhadap aksi penyampaian pendapat mahasiswa, termasuk pembubaran paksa dan penangkapan massal dalam demonstrasi di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (26/6).
>>> One Piece Chapter 1187: Luffy dan Imu Akhirnya Bertemu
Para guru besar dan tokoh intelektual itu menegaskan bahwa gerakan mahasiswa merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa.
Mereka dinilai sebagai tokoh yang berani menyuarakan kebenaran dan keadilan.
"Gerakan mahasiswa adalah pilar penting sejarah perjuangan bangsa ini.
Dari masa ke masa, mahasiswa telah membuktikan diri sebagai agen perubahan yang berani menyuarakan kebenaran dan keadilan," demikian pernyataan mereka.
Kaum guru besar dan intelektual juga menilai kondisi saat ini menempatkan suara mahasiswa sebagai harapan yang tidak bisa dibungkam, mengingat banyak isu krusial yang dinilai diabaikan di negara ini.
"Hari ini, ketika banyak isu krusial seperti ketimpangan ekonomi, perusakan lingkungan, dan pelemahan suara kritis diabaikan, suara mahasiswa menjadi harapan bagi rakyat yang tak bersuara," ucapnya.
Para guru besar dan intelektual itu secara tegas mengecam segala bentuk penggembosan, penekanan, dan intimidasi terhadap mahasiswa.
Mereka menyebut kebebasan berekspresi dan berorganisasi sebagai hak asasi yang dilindungi konstitusi dan tidak boleh dikoyak dengan dalih apapun.
"Kami mengecam keras segala bentuk penggembosan dan intimidasi terhadap mahasiswa. Kebebasan berekspresi dan berorganisasi adalah hak asas yang dilindungi konstitusi," ujarnya.
Desakan juga diarahkan kepada pemerintah dan institusi pendidikan tinggi agar membuka ruang partisipasi mahasiswa seluas-luasnya dalam proses demokrasi, bukan justru menjadi instrumen pembungkaman.
Update Terbaru
Sennheiser Luncurkan Earbud Clip-On Pertama dengan Driver 12mm dan LDAC
Rabu / 01-07-2026, 06:07 WIB
Yoon Eun Hye 'Coffee Prince' Ungkap Rahasia Diet, Tubuh Kencang di Usia 41
Rabu / 01-07-2026, 06:07 WIB
ESA Sebut Server Minecraft Pribadi Ilegal, Upaya Stop Killing Games Kembali Gagal
Rabu / 01-07-2026, 06:05 WIB
ESA Sebut Server Minecraft Pribadi Ilegal, RUU Stop Killing Games Gagal di California
Rabu / 01-07-2026, 06:05 WIB
Moral Ambiguity dalam Grave Seasons: Tidak Ada Jawaban Benar dalam Plot Pembunuhan Supernatural
Rabu / 01-07-2026, 06:00 WIB
Moral Ambiguity dalam Grave Seasons: Tidak Ada Jawaban Benar di Plot Pembunuhan Supernatural
Rabu / 01-07-2026, 06:00 WIB
Ecuador Adukan Gangguan Suporter Meksiko ke FIFA
Rabu / 01-07-2026, 06:00 WIB
Seoul Rilis Webtoon Promosikan Program Dukungan untuk Pemuda Terisolasi
Rabu / 01-07-2026, 05:57 WIB
Seoul Rilis Webtoon Promosikan Program Dukungan untuk Pemuda Terisolasi
Rabu / 01-07-2026, 05:57 WIB
Penulis Ichiha Hiiragi dan Artis mimita Luncurkan Manga Baru pada 15 Juli
Rabu / 01-07-2026, 05:57 WIB
Ecuador Resmi Adukan Gangguan Suporter Meksiko ke FIFA
Rabu / 01-07-2026, 05:56 WIB
Ester Exposito Seimbangkan Karier dan Sorotan Publik Jelang Piala Dunia
Rabu / 01-07-2026, 05:56 WIB
Ester Exposito Jalani Jadwal Padat di Tengah Rencana Hadiri Piala Dunia
Rabu / 01-07-2026, 05:56 WIB
Napoli Bantah Minat pada Adrien Rabiot dari AC Milan
Rabu / 01-07-2026, 05:56 WIB






