Pemerintah Matangkan Reformasi Subsidi untuk Tekan Beban APBN
Pemerintah tengah mematangkan reformasi skema subsidi di Indonesia. Langkah ini bertujuan menekan kebocoran anggaran negara yang selama ini tidak tepat sasaran.
Data Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menunjukkan beban subsidi saat ini mencapai Rp 300 triliun per tahun.
>>> Timnas Indonesia Naik ke Peringkat 118 FIFA Usai Sapu Bersih Kemenangan
Namun, sekitar 62,9 persen dari dana tersebut justru dinikmati oleh masyarakat golongan mampu.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai pembenahan tata kelola alokasi subsidi sudah sangat mendesak. Hal ini penting untuk menjaga postur keuangan negara.
"Kita perlu melakukan reformasi rezim subsidi. Ini mendesak untuk memastikan subsidi efisien secara anggaran dan tepat sasaran," ujar Wijayanto.
Ia mengungkapkan kegagalan pengelolaan pos anggaran ini dapat memicu ketidakpastian iklim investasi secara makro. Selain itu, daya saing industri nasional juga terancam menurun.
"Sangat urgen, ini tidak saja memperbaiki keberlanjutan APBN yang menjadi sumber pelemahan Rupiah dan ketidakpastian iklim berusaha," jelasnya.
Pengawasan dengan Teknologi AI
Menurut Wijayanto, saat ini ada banyak program subsidi komoditas yang dilakukan terpisah oleh pemerintah.
Contohnya pupuk, LPG, listrik, benih, BBM, beras, dan minyak goreng dengan total biaya operasional yang mahal.
>>> Kakang Rudianto Jagokan Portugal Juara Piala Dunia 2026
"Pengawasan dan monitoring dilakukan dengan teknologi AI, untuk mendorong tata kelola yang baik," terangnya.
Wijayanto menambahkan bahwa kesehatan dana APBN jangka panjang akan menjamin pasokan energi yang aman dan berkelanjutan. Hal ini penting bagi kebutuhan harian masyarakat dan dunia usaha.
"Juga memastikan kemampuan pemerintah untuk terus menyiapkan energi yang affordable bagi masyarakat dan bisnis," tuturnya.
Ia juga menggarisbawahi bahwa kekhawatiran pelaku industri terkait lonjakan harga bisa dihindari. Asalkan pemerintah menerapkan formula regulasi yang matang.
"Jika reformasi subsidi dijalankan dengan konsep dan cara yang tepat, reformasi subsidi ini justru memungkinkan pemerintah menurunkan," ungkap Wijayanto.
Pengetatan pengawasan di lapangan dinilai krusial agar ruang fiskal yang tercipta dapat dialokasikan kembali. Tujuannya untuk menjaga stabilitas harga energi pada segmen masyarakat bawah dan industri strategis.
>>> Ana/Trias dan Rachel/Febi Melaju ke Semifinal Australian Open 2026
"Atau paling tidak mempertahankan harga energi yang disubsidi, dengan cakupan yang lebih tepat," pungkasnya.
Update Terbaru
Stop Killing Games Kritik Langkah PlayStation Tinggalkan Kaset Fisik
Selasa / 28-07-2026, 00:15 WIB
Mainan Kucing Magikarp Pokémon Dijual Empat Kali Lipat di Pasar Sekunder
Selasa / 28-07-2026, 00:14 WIB
Evolusi Delibird di Pokémon Diamond dan Pearl Muncul dari DVD Langka
Selasa / 28-07-2026, 00:14 WIB
S.T.A.L.K.E.R. 2 Cost of Hope Ungkap Jadwal Rilis dan Menuju Chernobyl
Selasa / 28-07-2026, 00:14 WIB
Jim Carrey Beri Penghormatan Terakhir Usai Chuck Russell Meninggal
Selasa / 28-07-2026, 00:08 WIB
Evolusi Tren Gym Modern: Bukan Cuma Tempat Angkat Beban Biasa
Selasa / 28-07-2026, 00:07 WIB
Makeup Praktis dan Nyaman Jadi Tuntutan Baru Gaya Hidup Perempuan Modern
Selasa / 28-07-2026, 00:07 WIB
Sensasi uji aroma langsung ubah cara konsumen belanja parfum
Selasa / 28-07-2026, 00:00 WIB
Kebijakan Baru Insentif EV Bidik Mobil dan Motor Listrik Lokal
Selasa / 28-07-2026, 00:00 WIB
Garuda Muda Gilas Kamboja 5-1 Lewat Aksi Cemerlang Mitchell Baker
Selasa / 28-07-2026, 00:00 WIB
Spesimen Ijazah Jokowi Berbeda dari Lulusan UGM 1985 Menurut dr. Tifa
Senin / 27-07-2026, 23:56 WIB
Bocoran Harga Global Redmi Note 17 Series Sebelum Peluncuran Resmi
Senin / 27-07-2026, 23:56 WIB
Penampilan Berwibawa Demi Moore dalam MV Animal Milik KATSEYE
Senin / 27-07-2026, 23:56 WIB
Mengenal Airbus Beluga XL, Pesawat Kargo Unik Penopang Masa Depan Industri
Senin / 27-07-2026, 23:56 WIB







